Juli 7, 2020

Upaya BPIP Merawat Pancasila Lintas Generasi

Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia merupakan tuntunan dan harapan kehidupan berbangsa. Proses pembentukan Pancasila tidaklah mudah, memerlukan perjuangan dengan melalui perbedaan pendapat yang luar biasa. Itulah yang menjadi dasar bagi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengupayakan langkah merawat Pancasila.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti saat ini, peran media sosial menjadi sangat strategis. Masyarakat dimudahkan oleh beragam fasilitas dan akses teknologi untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi. Terlebih, ada beragam aplikasi yang menawarkan fasilitas bermedsos dengan mudah dan murah. Siapa yang tidak mengenal  Instagram, Youtube, Twitter, dan media sosial lainnya. Hal itulah yang menjadi celah untuk menyasar masyarakat Indonesia, terutama anak muda untuk memahami Pancasila.

Pancasila sebagai Ideologi yang Inklusif

Hakikat suatu ideologi ialah untuk melindungi jati diri bangsa. Pancasila sebagai ideologi bangsa haruslah berinteraksi dengan perkembangan dan perubahan pada dunia global. Perkembangan dan kemajuan yang ada niscaya tidak dapat dibatasi. Maka, merawat dan menguatkan Pancasila merupakan kewajiban negara. Pancasila sebagai ideologi yang mengakomodasi keterbukaan, mewadahi seluruh perubahan zaman.

Deputi Pendidikan dan Pelatihan BPIP RI, Baby Jim Aditya menyebut, kutipan dari Sun Tzu, ahli strategi perang Tiongkok, bahwa untuk menghancurkan suatu negara, hal yang perlu dilakukan ialah membuat rakyat suatu negara lupa akan kejayaan bangsanya. Hal itulah yang saat ini terjadi di Indonesia. Perbincangan dan diskusi mengenai Pancasila seakan hilang pada omongan masyarakat. Amat disayangkan, banyak tindakan masyarakat yang melukai makna Pancasila. Bahkan, pejabat publik yang mengaku ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’ banyak terjerat pasukan orange.

Dari sisi positif, ada banyak kebiasaan yang tanpa kita sadari bahwa tindakan tersebut Pancasilais. Perilaku positif seperti toleransi, menghargai satu sama lain, menjunjung persatuan, demokrasi, dan menegakkan keadilan merupakan contoh pengamalan nilai-nilai Pancasila.

BPIP Rangkul Influencer, Youtuber, Pendongeng, dan GenRe BKKBN

Menjadi suatu hal yang mendesak bagi Indonesia, di tengah-tengah ideologi yang berkembang di dunia untuk bertahan dalam mengimplementasikan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Atas dasar itulah BPIP mengundang para influencer, youtuber, pendongeng, dan GenRe BKKBN. Mereka hadir dalam acara Pendidikan dan Pelatihan Ideologi Pancasila atas perbedaan generasi, baik generasi X, generasi Y, dan generasi Z.

Generasi X adalah mereka yang lahir di tahun 1965 hingga 1980 masehi. Lalu, generasi Y atau yang lebih dikenal milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1981 sampai dengan 1994. Sedangkan generasi Y adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai tahun 2010. Oleh karenanya, secara efektif Pancasila perlu masuk ke ruang-ruang pergaulan sesuai generasi masing-masing.

Para peserta yang hadir pada acara Diklat Pancasila disuguhi oleh beragam materi dan inspirasi. Diklat Pancasila tersebut menekankan pada pembuatan konten kreatif pada media sosial untuk menyasar media yang banyak dimanfaatkan masyarakat, terutama anak muda. Bahkan, para peserta yang hadir mendapat tugas menjadi Duta Pancasila BPIP RI. Besar harapan, mereka yang hadir pada acara diklat, selain mendapat banyak ilmu dan pengalaman, dapat mengamalkan dan mensosialisasikan Pancasila sesuai profesi bidang masing-masing. Tentu, sudah seharusnya lah dimulai dari diri kita sendiri utnuk menjadi contoh, model, dan teladan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Submit esaimu secara mandiri di sini ya.

Untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak dengan mengirimkan pasukan perang, tetapi dengan menghapus pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhurnya.

SUN TZU

 

Lebih akrab dengan sapaan Shofi Hoo. Lahir di kota terpencil tak membuat hatinya kecil. Lahir di daerah tertinggal tak membuat semangatnya pudar. Bangga menjadi minoritas yang terbuang, terpinggirkan, tersisihkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.