Singkat: Mempelajari dan Memahami Aliran Pemikiran Hukum

Salah satu alasan utama lahirnya beragam teori atau aliran pemikiran hukum adalah upaya untuk mencari jawaban dari pertanyaan apa hakikat dari hukum itu sendiri.

Hukum Alam

Dalam mencari jawaban tersebut maka muncullah Aliran hukum alam, sebagai awal menjawab pertanyaan apa hakikat dari hukum itu sendiri. Hukum alam dipahami sebagai sesuatu yang ada sebelum yang lain ada, yaitu Tuhan.

Pada generasi pertama hukum alam dipahami sebagai hukum tuhan (Lex Divina). Oleh karena itu, muncullah apa hakikat hukum itu yang tidak lain adalah hukum berasal dari tuhan. Hukum tuhan terkodifikasi di dalam agama.

Pada generasi pertama inilah hukum alam dikembangkan oleh tokoh-tokoh agama khususnya di Eropa oleh tokoh gereja. Hukum alam adalah hukum yang bersumber dari agama yang bersifat universal (berlaku untuk semua orang yang diberikan oleh tuhan).

Hukum Alam adalah yang tertua yang dapat dikenali sejak zaman yang kuno sekali sampai kepada permulaan abad pertengahan. Apabila orang mengikuti sejarah Hukum Alam, maka ia sedang mengikuti sejarah ummat manusia yang berjuang untuk menemukan keadilan yang mutlak di dunia ini serta kegagalan.

Munculnya Hukum alam merupakan usaha manusia untuk menemukan hukum dan keadilan yang ideal. Thomas Aquino merumuskan hukum sebagai “Peraturan yang berasal dari akal untuk kebaikan umum yang dibuat oleh seorang yang mempunyai kewajiban untuk menjaga masyarakatnya dan mengundangkannya”. Oleh karena dunia ini diatur oleh tatanan ketuhanan, seluruh masyarakat dunia ini di atur oleh akal ketuhanan. Hukum ketuhanan adalah yang tertinggi. Thomas Aquino membedakan empat macam hukum, yaitu: lex aeterna, lex naturalis, lex divina, dan lex humana.

Mazhab Hukum alam adalah suatu aliran yang menelaah hukum dengan bertitik tolak dari keadilan yang mutlak, artinya bahwa keadilan tidak boleh diganggu. Apabila keadilan itu terganggu akan menimbulkan reaksi manusia yang akan berusaha untuk mengembalikan kepada situasi semula yaitu situasi yang adil menurut pandangan orang yang berpikir sehat. Hukum alam adalah hukum yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
 Terlepas dari kehendak manusia, atau tidak bergantung pada pandangan manusia.
 Berlaku tidak mengenal batas waktu, artinya berlaku kapan saja.
 Bersifat universal artinya berlaku bagi semua orang.
 Berlaku di semua tempat atau berlaku di mana saja tidak mengenal batas tempat.
 Bersifat jelas (dengan sendirinya) bagi manusia.

Hukum alam tidak bergantung pada pandangan manusia, berlaku kapan saja, di mana saja, bagi siapa saja dan jelas bagi semua manusia tanpa ada yang menjelaskannya. Ajaran mengenai hukum kodrat dikemukakan antara lain oleh Aristoteles, Thomas Aquino, Hugo de Groot, dan Rudolf Stammler.

Dalam perjalanannya, hukum alam mengalami proses sekularisasi (menjauh dari agama). Sekuler sesuatu yang berbicara tentang sesuatu yang sekarang dan tidak ada kaitannya dengan sebelumnya atau sesudahnya. Sekuler tidak menyakini “the day after tomorrow” (alam gaib).

Sekuler adalah ideologi yang menyatakan bahwa kehidupan itu hanya kini dan disini setelah mati semua selesai. Sedangkan ajaran agama tidak membicarakan kini dan disini tetapi masa depan (alam gaib), kehidupan setelah kematian. Ada sebab mengapa terjadi proses sekularisasi pada hukum alam.

Pada zaman Renaissance, salah satu yang digugat adalah doktrin-dokrin agama yang terdapat di gereja yang dianggap tidak mencerahkan. Dari sisilah hukum alam mengalami perubahan dari yang bersumber pada agama menjadi bersumber pada Rasio (akal). Dengan demikian, nama hukum alam ditambah menjadi lex eterna/eternity (keabadian).

Sejak kapan dan siapa yang menentukan sesuatu itu memiliki nilai universal? Dimana kita menemukannya? Bagi mereka yang menyakini tuhan, mereka akan mengatakan bahwa hal tersebut terdapat pada agama.

Namu, bagi mereka yang tidak beragama hal tersebut tidak berlaku. Disinilah kelemahan hukum alam. Untuk menjawab kelemahan hukum alam maka muncullah, aliran Positivisme.

Positivisme

Aliran Positivisme mengatakan bahwa Hukum alam sangat abstrak. Aliran ini lahir pada abad ke-19, setelah aliran hukum alam mengalami kemunduran dan kegagalan.

Hal ini terjadi karena hukum alam tidak bisa lagi memberikan tuntutan di tengah-tengah gugatan terhadap kepercayaan sosial dan moral pada saat itu.

Aliran ini berpendapat bahwa satu-satunya sumber hukum adalah Undang-undang. Juga, aliran ini menegaskan bahwa di luar undang-undang tidak ada hukum.

Dalam aliran positivisme hukum identik dengan Undang-undang. Dalam hal ini undang-undang diciptakan oleh penguasa (Negara/Pemerintah) dan dikodifikasikan agar terdapatnya kesatuan hukum (rechtsseenheid) dan kepastian hukum (rechtszakerheid). Namun dalam perkembangannya, aliran Positivisme dibantah oleh aliran sejarah hukum.

Aliran Sejarah Hukum

Aliran ini disebut aliran sejarah hukum karena Sejarah tidak dibuat, sejarah adalah bagian yang tumbuh. Sejarah membicarakan pengalaman, tidak mungkin sejarah tanpa pengalaman. Aliran sejarah hukum dengan tokohnya Friedrich Carl Von Savigny mengatakan bahwa hukum tidak dibuat melainkan hidup, tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Berbeda sekali dengan aliran positivisme yang mengatakan bahwa hukum dibuat atau diciptakan oleh para penguasa yang memiliki wewenang untuk membuat hukum atau aturan.

Aliran sejarah hukum menjelaskan bahwa hukum adalah Volkgeist, volk : Masyarakat; geist : Jiwa. Hukum merupakan jiwa dari masyarakat. Hukum merupakan suatu rangkaian kesatuan yang tak terpisahkan dengan sejarah bangsa dan karenanya hukum selalu berubah menurut tempat dan waktu. Oleh karena itu, hukum tumbuh bukan dibuat dan berisikan aspirasi masyarakat (kebutuhan masyarakat).

Aliran ini tidak setuju dengan kodifikasi yang dilakukan oleh Aliran Positivisme, yang ditekankan dalam aliran sejarah hukum adalah hukum kebiasaan, etika.Namun, dalam perkembangannya sangat sulit menciptakan hukum yang dapat sejajar dengan dinamika (pergerakkan) yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, disinilah muncul Aliran Sociological Jurisprudence.

Aliran Sociological Jurisprudence

Dalam aliran Sociological Jurisprudence hukum harus dapat menghadapi dinamika yang terjadi di masyarakat. Hukum harus memperhatikan dinamika yang terjadi di masyarakat. Aliran ini berkembang di Amerika dengan tokohnya Roscoe Pound, Eugene Ehrlich, Benjamin Cardozo, Kontorowics, Gurvith dan lain-lain.

Dalam aliran ini, hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Kata “sesuai” diartikan sebagai hukum yang menceminkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Hukum adalah Insinyur Masyarakat.


Sumber foto: pexels


kawanhukum.id merupakan platform digital yang mewadahi ide Gen Y dan Z tentang hukum Indonesia. Tulisan dapat berbentuk opini, esai ringan, atau tulisan ringan lainnya dari ide-idemu sendiri. Ingin tulisanmu juga diterbitkan di sini? Klik tautan ini.



sudah selesai di Fakultas Hukum, sedang menempuh Magister Administrasi Publik

Tinggalkan Balasan