Hari ini:Oktober 20, 2019

Setelah DPR, Buzzer Mencoba Melemahkan KPK: Taliban Ngapain di KPK?

Upaya pelemahan KPK kembali dilakukan oleh DPR, setelah pada rapat paripurna DPR menyetujui untuk merevisi UU KPK. Bahkan, Presiden RI Joko Widodo telah meminta Surat Presiden untuk mengirim wakil dari pemerintah yang sedang membahas revisi tersebut.

Tidak hanya lembaga legislatif dan eksekutif yang semakin sulit amarah rakyat. Nyatanya, rakyat itu sendiri terpecah dan belum ada satu suara menolak pelemahan bagi KPK. Mendukung dari demo bayaran di depan Gedung KPK untuk mendukung Ketua KPK baru dan pro terhadap revisi UU KPK, serta serangan terhadap KPK melalui media maya santer mendengarkan.

Serangan pelemahan terhadap KPK dilakukan oleh para buzzer media sosial terutama pada aplikasi Twitter. Serangan ini terlihat sangat politis di tengah-tengah keterpurukan KPK menangkal virus kejahatan pelemahan KPK. Bukan tanpa alasan, KPK sebagai lembaga yang dipercaya rakyat dalam memberantas korupsi, semakin dipermainkan hingga ingin ‘dibumi hanguskan’.

Isu yang sedang ramai dibahas mengenai masuknya radikalisme di tubuh KPK. KPK dianggap menampung kelompok Taliban dan Polisi India di dalam struktur KPK. Karyawan KPK tiba-tiba banyak bergaya pakaian ala hijrah.

Apakah Anda yang berjenggot dan berjilbab lebar radikal?

Anita Wahid – Puteri Gus Dur bersama rekan-rekannya dari Perempuan Indonesia Anti Korupsi sempat melakukan audiensi dengan Komisioner KPK. Dijelaskan pada acara tersebut, KPK bergerak cepat mengatasi masalah yang dikeluarkan ramai di masyarakat. Bahkan, KPK juga telah menerbitkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menjelaskan tentang tidak memverifikasi kelompok radikal pada tubuh KPK.

Pakar media sosial sekaligus Pendiri Drone Empirit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, melalui akun Twitternya @ismailfahmi menyebut, KPK secara sistematis diserang melalui isu Taliban. Ia menampilkan Analisis Jejaring Sosial (SNA) di tweet- nya, di mana ada dua narasi berwarna merah dan hijau. Warna merah berarti akun Twitter yang membahas masalah Taliban, sedangkan warna hijau mengartikan akun Twitter yang membahas KPK yang bukan merupakan Taliban.

Anita Wahid menjadi bagian dari KPK dan juga menjadi anggota di netizen di Twitter melalui tweet dan artikel hasil tabayyunnya di situs KPK di gusdurian. Sementara, akun Twitter penyebar isu Taliban terpantau sebagai pemain lama yang kerap kali meramaikan dan mempermainkan isu di jagat dunia maya.

Buzzer tersebut menggiring opini masyarakat untuk mempercayai Ketua KPK baru, yaitu Irjen Pol. Firli yang dalam hal ini ‘diklaim’ Firli didzolimi WP KPK dan menjadi korban keganasan KPK. Namun, hal ini jelas sekali salah dan penggiringan pendapat tersebut terpatahkan.

Jelas sekali, pengembangan narasi tentang KPK yang diminta oleh kelompok radikal Taliban dan Polisi India adalah omong kosong dan tak berdasar. Buzzer yang menggaungkan #KPKTaliban melalui berbagai tweet dan meme, sungguh menyesatkan. Jadi, marilah rakyat Indonesia, satukan suara, satukan tekad, satukan aksi, perkuat KPK.

Negeri ini tidak akan hancur karena bencana atau berbeda. Namun karena MORAL BEJAT dan PERILAKU KORUPSI.

Gus Dur

Share

Lebih akrab dengan sapaan Shofi Hoo. Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember. Satu dari sepuluh pemuda pengguncang dunia.