Juli 3, 2020

Sahabat Pengadilan: Dalam Bingkai Kecil dan Masa Depan di Indonesia

Masih ingat dengan gugatan yang diajukan oleh saudara Enggal Pramukty kepada Presiden Jokowi beberapa waktu lalu? Gugatan tersebut lazim disebut dengan class action lawsuit, yang diajukan karena Presiden Jokowi dinilai lalai dalam tugasnya untuk melindungi pelaku UMKM, seperti Mas Enggal dengan rekan-rekannya dari dampak pandemi COVID-19 sejak awal Maret 2020.

Sejatinya, dalam sistem hukum di Indonesia yang menganut civil law, tidak memiliki mekanisme gugatan tersebut. Class action awalnya berkembang di negara-negara penganut sistem hukum common law yang kemudian diadopsi oleh negara-negara penganut sistem hukum civil law, seperti Indonesia. Tentunya hal ini membantu perkembangan sistem hukum Indonesia menjadi lebih baik karena dengan class action lawsuit, putusan yang berulang-ulang yang dapat berisiko adanya inkonsistensi putusan dalam perkara yang sama dapat dihindari.

Namun, selain class action yang diadopsi oleh sistem hukum Indonesia, timbul tanda tanya  mengenai suatu mekanisme sistem hukum common law lain, yakni bagaimana masa depannya – dalam perkembangannya – di Indonesia. Apakah akan diadopsi oleh sistem hukum Indonesia secara teregulasi dan terlegitimasi dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan ini, saya dapatkan ketika saya mengikuti sebuah webinar beberapa waktu lalu. Amicus curiae lah nama pranata hukum tersebut.

Pengertian “Sahabat Pengadilan”

Secara kebahasaan, amicus curiae – adalah bahasa Latin, plural: Amici Curiae – yang memiliki arti Sahabat Pengadilan (friend of the court). B. Robert Hopper memberikan pengertian dalam  J. Marshall L. Review (2017) bahwa amicus curiae adalah seseorang yang bukan pihak dari pihak-pihak yang bersengketa dalam pengadilan, namun membantu pengadilan dengan cara yang lain. Arti “cara lain” disini adalah dengan memberikan keterangan tertulis berupa dokumen – disebut amicus brief – atau dengan memberikan keterangan secara lisan. untuk membantu pengadilan menjernihkan suatu persoalan dalam rangka menemukan keadilan. Meskipun ikut terjun dalam persidangan, amicus curiae disini hanyalah bersifat keterangan dan bukan melakukan perlawanan,

Amicus Curiae di Indonesia

Dalam sistem hukum Indonesia, dasar hukum yang menjadi acuan keberlakuan amicus curiae terdapat dalam:

  1. Pasal 180 ayat (1) KUHAP yang berbunyi: “Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.” dan;
  2. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi: “Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

Menurut Miko S. Ginting, pengajar hukum pidana Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, hadirnya ˆ dalam konteks pengadilan ini tentu mendorong kualitas putusan majelis hakim dengan keterangan-keterangan yang bersifat empiris, juga memperkokoh penyeimbangan posisi para pihak (equality of arms). Namun, berbeda halnya dengan keterangan ahli yang sebagai alat bukti, amicus curiae tidak dapat mempengaruhi hakim dalam putusannya.

Hal ini kembali lagi kepada kekuasaan kehakiman dimana hakim dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, harus berdiri dan berkewajiban menjaga kemandirian hakim. Keberadaan amicus curiae ini tentu juga mendorong sistem demokrasi mengingat mekanisme tersebut merupakan suatu sarana publik – untuk membawa kepentingan publik dalam litigasi – karena pengajuan amicus curiae dapat dilakukan jika ada dampak sosial yang timbul akibat suatu sengketa.

Sebenarnya telah beberapa kali proses litigasi di Indonesia melibatkan adanya mekanisme amicus curiae, sebut saja kasus Upi Asmaradhana tentang perkara tindak pidana penghinaan terhadap mantan Kepala Polisi Sulawesi Tengah; Peninjauan kembali kasus Majalah Time versus Soeharto; hingga kasus penggusuran Papanggo, Jakarta Utara, dengan pihak yang bertindak sebagai amicus curiae adalah NGO dari luar negeri.

Eksistensinya di Luar Indonesia

Menurut Samuel Krislov dalam Yale Law Journal tahun 1963, amicus curiae merupakan instrumen hukum kuno yang berasal dari tradisi hukum Roma yang tidak memiliki indikasi jelas bahwa amicus curiae diajukan ke Supreme Court hingga awal abad ke-19. Dalam riwayat lain, amicus curiae muncul dan digunakan sejak abad ke-14 di Inggris dan berkembang pada abad ke-17 hingga ke-18. Fungsi utamanya adalah klarifikasi fakta; menjelaskan isu hukum; memperbaiki kekurangan adversarial common law system dalam melindungi kepentingan pihak ketiga. Kembali merujuk pada tulisan B. Robert Hopper sebelumnya, dalam sejarah amicus curiae pada English common law, pihak-pihak yang bersengketa membeberkan serta menetapkan permasalahannya dan bukti-bukti yang ada, sehingga atas dasar itulah pengadilan menyelesaikan perkara dan dalam tradisi adversarial system ini, ada sedikit ruang untuk pihak diluar sengketa.

Pengajar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan Tristam P. Moeliono menyebutkan bahwa di Belanda, peluang ini (amicus curiae) dimunculkan untuk perkara hukum administrasi, fiskal, dan perdata. Hal ini juga dikaitkan dengan kebutuhan serta proses pembentukan-penemuan hukum. Selain itu, dalam Pengadilan Pidana Internasional terdapat Rule 103 of the International Criminal Court Rules of Procedure and Evidence, dimana memperbolehkan dewan untuk mengundang negara, organisasi, atau perseorangan untuk memberikan ‘pandangannya’ secara tertulis maupun oral terhadap persoalan terkait.

Bagaimana Perkembangannya di Indonesia?

Di Indonesia saat ini, belum ada statute yang mengatur secara jelas tentang pelaksanaan amicus curiae. Keberadaaannya selain mendorong eksistensi demokrasi dalam litigasi, tentu juga memiliki pengaruh bagi pengadilan untuk membuat acuan bagi penyelesaian permasalahan sosial. Pertanyaannya adalah, akankah sistem hukum Indonesia mengadopsinya secara teregulasi dan terlegitimasi dengan baik?  Dilansir dari hukumonline, Kepala Bidang Perencanaan Legislasi Badan Pembinaan Hukum Nasional, Tongam R. Silaban mengatakan secara konsep amicus curiae dapat digunakan untuk menunjang hakim dalam mengambil keputusan, tapi sejauh mana amicus curiae masuk dalam putusan pengadilan masih perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah amicus curiae betul dibutuhkan dalam sistem hukum Indonesia dan bukan hanya keinginan yang tidak berdasar saja.

Kepala Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung, Abdullah mengatakan sejauh ini amicus curiae belum pernah dibahas dalam rapat pleno kamar MA, juga mengatakan MA menyikapi fenomena ini tentu tetap berpedoman pada UU Kekuasaan Kehakiman dan UU terkait. Abdullah mengakui dalam UU Kekuasaan Kehakiman, hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, sehingga tidak menutup kemungkinan mengakomodir amicus curiae.

Di lain sisi, ada yang berpendapat bahwa amicus curiae sudah diakui di Indonesia dengan konsep yang sama. Yakni, dalam persidangan pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi. Dalam hukum acara MK, pihak ketiga yang berkepentingan bisa mendaftarkan diri dan memberikan pendapat dalam sebuah pengujian undang-undang yang diajukan oleh orang lain.

Keuntungan-keuntungan yang didapatkan atas eksistensi amicus curiae sangat jelas. Pikiran bahwa hal tersebut baik sekali untuk meng-upgrade hukum di Indonesia adalah wajar, namun yang perlu dipertimbangkan juga adalah jika amicus curiae diadopsi, beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti: bagaimana maksud kepentingan yang kuat, kasus seperti apa  yang dapat dimasuki amicus curiae; hingga kepemilikan legal standing yang mewakili public interest dan relevansi substansi amicus dengan pokok perkara; sehingga adanya amicus curiae tidak menjadi intervensi pihak luar dalam proses litigasi.


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Esai yang diterbitkan dari, oleh dan untuk generasi Y dan Z. Submit esaimu secara mandiri di sini ya.

Pelajar penuh waktu tanpa hari minggu. Lebih suka mendengarkan dan memperhatikan. Pendengar setia Patsy Cline, Willie Nelson, Queen, Scorpions, dkk. Ingin bercengkrama, bercerita, atau sekadar menyapa? Yuk, silahkan klik kontak berikut~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.