9 April, 2020

Perempuan dan Kekerasan Seksual di Indonesia

Perilaku melecehkan baik secara diam-diam maupun terbuka membuat gerah para perempuan dan pejuang perempuan. Nyatanya, pelecehan tidak hanya dilakukan oleh laki-laki tetapi juga perempuan terhadap perempuan. Sebagian sesama dari mereka sudah membudayakan dalam dirinya dan kehidupannya sehari-hari bahwa memang adalah kodrat seorang perempuan untuk menjadi demikian dan mendapat perlakuan demikian.

Tentu ini adalah pengikhlasan budaya yang luar biasa salah yang sudah terlahir jua dari generasi ke generasi. Sebagai perempuan yang mewajarkan semua hal ini, apakah perempuan hari ini, telah bebas dalam menetukan pilihan untuk dirinya atau justru terjebak dalam permainan lingkaran euforia  yang padat akan nilai patriarki? Dalam kehidupan bermasyarakat, terasa bahwa perempuan belum bebas dalam menentukan pilihan sendiri.

Tiada Terketahui dari Mana Asal Muasalnya Tindak Kekerasan Seksual ini Bermula

Di dalam Pasal 1 Butir 1 Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), terdapat definisi lengkap kekerasan seksual yaitu:
“Setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.”

Dan sebagaimana dirumuskan dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual pada Pasal 12, pelecehan seksual adalah:
“Kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.”

Kekerasan Seksual Melecehkan Hak Asasi

Pelecehan hak asasi yang termaksud diatas tidaklah hanya sebatas pelecehan berbentuk fisik atau tubuh tetapi juga berdampak kepada mental atau jiwa, karena hak asasi perempuan pun telah terlecehkan atau terlanggar dengan berbagai cara. Sebenarnya pun pelecehan dapat terjadi pada semua orang. Nyatanya, baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban maupun pelaku atas perilaku pelecehan seksual dimanapun. Tetapi demikian, condong terjadi pada perempuan saja. Bentuk pelecehan seksual sangatlah kompleks dan ada kemungkinan ini semakin berkembang dari tahun ke tahun. Semakin kuat bentuk penguatan atau perlindungan terhadap korban maka cara untuk melecehkannya pun akan mengikut untuk berkembang jua. Pelecehan secara fisik adalah sentuhan yang tidak diingankan mengarah ke perbuatan seksual seperti menepuk, mencubit, meremas, mencium, dan tidakan sejenisnya.

Pelecehan secara lisan adalah ucapan/komentar bernada seksual untuk melecehkan atau menggoda korban, biasanya dibalut dengan bercanda. Pelecehan secara Isyarat adalah bahasa tubuh atau gerakan bernada seksual, seperti kerlingan mata, isyarat jari, maupun isyarat bibir. Pelecehan secara Tertulis/gambar adalah menampilkan bahan pornografi berupa visual atau teks yang melecehkan korban melalui media komunikasi elektronik. Pelecehan secara Psikologis/emosional adalah Permintaan atau ajakan yang tidak diinginkan seperti ajakan kencan, penghinaan, atau celaan bersifat seksual secara terus-menerus.

Dampak dan Ancaman Nyata Kekerasan Seksual

Dampak yang ditimbulkan ialah berupa gelisah, seperti kecemasan dengan ketakutan bahwa kejadian itu akan terulang kembali, mereka juga bisa seperti terserang kepanikan atau ketakutan kronis kepada orang yang memiliki ciri fisik atau perilaku pun profesi yang sama dengan pelaku. Depresi, ialah rasa putus asa atau berkurangnya harga diri seseorang secara sementara atau berjangka panjang. Stres, semakin meningkatnya rasa gelisah dan depresi korban bahkan ia terkadang bisa lepas kendali dari kondisi yang dialaminya sekarang dan terbayang situasi yang dialaminya kala itu; ini juga berpengaruh untuk mengubah kepribadian seorang korban. Gangguan kepribadian, kepribadian seorang korban konsisten dalam perubahan yang tidak dapat diduga setiap harinya, dan ini adalah bagian terberat yang dialami oleh seorang korban.

Isu hak asasi perempuan sebagai bagian dari HAM masih tetap belum merupakan isu yang memasyarakat. Bahkan, isu ini terpinggirkan oleh isu hak asasi manusia lainnya seperti hak politik, hak sipil, hak ekonomi, pun hak sosial dan budaya. Sekiranya dapat tertanggapi kasus-kasus hak asasi perempuan oleh negara adalah suatu intensi yang sangat berkesan bagi kaum perempuan yang terlecehkan atau yang membutuhkan pembelaan dan perlindungan dari negara, supaya mereka bisa merasa aman, nyaman sama seperti laki-laki. Tetapi tidaklah benar apabila kaum perempuan memiliki impian dapat melampaui segala hal atau menentang segala hal dari laki-laki. Sebab perempuan dan laki-laki adalah setara memiliki potensi dan memiliki kelemahannya tersendiri, inilah saling melengkapi yang disebutkan sebagai makhluk sosial. Kesepakatan untuk menjalani kehidupan tanpa paksaan dan kurungan. Kesepakatan untuk setara dalam konsep berpikir dan bertindak. Perempuan dan laki-laki harus sama-sama memiliki konsep pemenuh kebutuhan yang saling bergantungan sehingga tidak ada yang dirugikan.

Perempuan Harus Kuat dan Bersatu

Sebagai sesama kaum, perempuan harus saling menguatkan untuk terus berjuang mengenali, mencegah, dan melawan segala bentuk pelecehan seksual, penyerangan seksual, dan ancaman seksual. Perempuan juga adalah manusia yang sama beragamnya seperti manusia seadanya. Kecantikan atau segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki adalah perihal yang relatif seorang manusia. Perempuan adalah pribadi perempuan itu sendiri. Perempuan tidaklah harus menjadi sempurna bagi siapapun, sebab menjadi sempurna bukan ukuran menjadi bahagia.


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Submit esaimu secara mandiri di sini ya.

Baca juga: Menelisik Patriarki dan Posisi Perempuan di Indonesia

 

Share

Law Student 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lewat ke baris perkakas