September 20, 2020

Panik Mendorong Seseorang Semakin Konsumtif?

Kepanikan menjadi gejala psikologis yang timbul dari rasa cemas. Beberapa psikolog meyakini bahwa rasa takut dan cemas muncul karena respon alam pikiran manusia terhadap suatu ancaman atau sesuatu yang asing.

Seseorang dapat mengalami gejala kepanikan dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti:

1. Perundungan di masa lampau

Pengalaman perundungan turut mempengaruhi perkembangan psikologis seseorang. Trauma yang membuat beberapa ketakutan menjadikan seseorang khawatir terhadap suatu hal tertentu yang dikaitkan dengan kejadian yang berhubungan dengan masa lampaunya tersebut. Terganggunya perkembangan psikologis dapat berakibat fatal bagi pertumbuhan otak dan kepribadian, terlebih apabila seseorang tersebut berada di fase-fase pertumbuhan (6 s.d. 18 tahun).

Pada masa inilah seorang anak sedang mengalami kemajuan yang pesat baik dari segi psikis, mental dan fisik. Apabila seseorang ini menemukan sebuah hal yang mengingatkannya pada masa lampau yang buruk, maka ia acapkali akan mengalami gejala kepanikan dan ketakutan atas rekaman memori yang ada.

2. Pernah dilecehkan

Pelecehan baik menyangkut harkat martabat maupun penyelewengan hak dan kewajiban turut mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Sejatinya, otak akan menyimpan sebuah kejadian yang direspon tidak biasa oleh tubuh melalui alam pikiran bawah sadar. Sebuah studi menjelaskan bahwasanya alam pikiran bawah sadar mempengaruhi sekitar 88 persen, sedangkan alam pikiran sadar hanya berperan sekitar 12 persen.

Pengalaman yang buruk berupa pelecehan yang terekam oleh alam pikiran bawah sadar menjadikan seseorang mengalami ketakutan terhadap suatu hal (trauma) sehingga secara perlahan akan merubah kepribadian anak tersebut. Salah satu contoh yang paling mencolok akhir-akhir ini adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak dibawah umur terhadap balita. Para psikolog dan kriminolog pada awalnya menduga anak tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Di akhir pemeriksaan, diketahui ternyata pelaku adalah korban pelecehan seksual dan saat ini sedang mengandung bayi sekitar 3.5 bulan.

3. Faktor keturunan

Faktor yang ketiga ini merupakan faktor biologis di mana kebiasaan dan sifat orang tua sebagai carrier pada si anak mengakibatkan anak mengikuti beberapa sifat dari orang tuanya. Hal tersebut dapat terjadi lantaran sifat ayah atau ibu turut mempengaruhi kepribadian anak sekitar 15 persen, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor perkembangan anak. Dari angka 15 persen ini terdapat beberapa sifat yang melekat pada anak, yang salah satunya dapat berupa ketakutan terhadap hal-hal tertentu, seperti contoh adalah gejala kecemasan sosial.

4. Faktor eksternal lain

Pada poin ini, seseorang dapat mengalami gejala kekhawatiran dikarenakan terdapat satu atau beberapa hal yang terjadi di masyarakat yang meresahkan. Perlu diketahui, ketakutan pada seseorang dapat menular kepada seseorang yang lain.

Pada kasus kali ini, kejadian sebuah pandemi mengakibatkan kepanikan yang terjadi di masyarakat atas reaksi ketakutan akan hal-hal tertentu yang mereka prediksikan, salah satunya adalah panic buying.

Panic buying sendiri adalah kejadian dimana masyarakat membeli kebutuhan pokok secara berlebihan dengan maksud memasok kebutuhan sehari-hari yang diakibatkan oleh kekhawatiran tidak dapat membeli dan mengakses kebutuhan-kebutuhan tersebut di masa depan.

Ketidakseimbangan antara supply dan demand kian memperparah kejadian yang ada sehingga diperlukan berbagai antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintah melalui berbagai kebijakan publik. Hal ini didasari atas hukum ekonomi dimana  jika terjadi permintaan tinggi karena tidak jumlah barang yang sedikit, maka harga barang akan semakin mahal.

Begitupun sebaliknya, apabila terjadi permintaan yang rendah sedangkan barang yang tersedia melimpah, maka barang akan menjadi murah.

Sejatinya, kegelisahan yang timbul di masyarakat memiliki penyebab yang sama (shared feeling and knowledge), yakni disebabkan oleh merebaknya COVID-19 yang berdampak pada pelemahan sendi-sendi perekonomian hingga tertib sosial dalam masyarakat. Di berbagai belahan dunia, masyarakat memiliki ketakutan yang sama atas informasi yang diwartakan baik media local maupun media internasional.

Sebagaimana diambil dari berbagai sumber, di Amerika Serikat hingga Selandia baru masyarakat setempat secara masif melakukan pembelian barang secara besar-besaran yang membuat langkanya beberapa kebutuhan pokok seperti tisu dan makanan penyajian cepat sehingga beberapa barang pokok mengalami pelambungan harga. Sementara itu di Iran sendiri sebagaimana kebijakan pemerintah setempat telah memberlakukan anjuran beribadah dari rumah, yang mana anjuran tersebut diikuti oleh beberapa negara lainnya.

Kemajuan teknologi membuat mudahnya akses terhadap informasi sehingga masyarakat dapat memiliki pengetahuan yang sama atas suatu informasi yang sama. Tiap-tiap negara tersebut tentu memiliki permasalahan sendiri dan memiliki solusi terkait dengan penanganan kasus tersebut. Sebagaimana berlaku di Indonesia panic buying dalam beberapa kasus diakibatkan oleh penimbunan beberapa barang pokok oleh oknum-oknum tertentu. Lantas bagaimana hukum memandang hal tersebut?

Ilmu Hukum memandang penimbunan

Hukum sebagai regulator yang mengatur dan membatasi kegiatan masyarakat serta menjamin hak-hak individu telah mengatur secara khusus terkait dengan gerakan penimbunan yang dilakukan oleh sekelompok individu dalam rangka untuk memperkaya diri sendiri dan golongan.

Pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Pasal 29 yang berbunyi:

Pelaku Usaha dilarang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan Barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang.

Pelaku usaha dapat melakukan penyimpanan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu jika digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam proses produksi atau sebagai persediaan Barang untuk didistribusikan.”

Regulasi ini dengan jelas mengatur keharusan masyarakat dan larangan terhadap oknum-oknum yang melakukan penimbunan barang-barang, bukan hanya dikala pandemi saja. Lantas, bagaimanakah sanksi pidana yang dapat dikenakan terkait dengan perbuatan pidana ini?

Merujuk kepada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014, Pada Pasal 103 dituliskan:

Pelaku usaha yang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan Barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas perdagangan barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).”

Oleh karena itu, sudah jelas bahwa sanksi yang dapat diberikan adalah pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau pidana denda paling banyak lima puluh miliar rupiah.


kawanhukum.id merupakan platform digital berbasis website yang mewadahi ide Gen Y dan Z tentang hukum Indonesia. Tulisan dapat berbentuk opini, esai ringan, atau tulisan ringan lainnya dari ide-idemu sendiri. Ingin tulisanmu juga diterbitkan di sini? Klik tautan ini.

Avatar

College student of Universitas Indonesia's lawschool. A fulltime learner

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments