Juli 3, 2020

Pancasila Pascareformasi: Masih Menjadi Objek Pertarungan Kelompok Nasionalis dan Muslim?

Permasalahan seputar Pancasila kini kembali hidup. Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya ideologi di Indonesia adalah kebebasan yang terbuka lebar bagi semua kalangan ketika jatuhnya Rezim Orde Baru. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang buruk, karena pada dasarnya kebebasan yang terbuka lebar merupakan sebuah dobrakan besar di akhir pemerintahan yang otoriter.

Sejak jatuhnya Pemerintahan Orde Baru, pemerintah maupun elit politik terkesan gagap. Kegagapan ini pada dasarnya disebabkan oleh para masa yang cenderung berfokus untuk merobohkan rezim daripada lebih dalam memikirkan masa depan kehidupan politik dan sosial setelah tumbangnya Rezim Orde Baru. Pada sisi lain, tidak ada waktu lagi yang cukup bagi Indonesia untuk menyusun konsep perubahan dan proses penataan kenegaraan. Jalan pintas pun ditempuh, melalui dibukanya liberalisasi politik dan penyelenggaraan Pemilu (Hakim, 2015).

Reformasi Indonesia

Sejalan dengan hal itu, kebahagiaan terpancar bagi mereka yang telah menjatuhkan rezim otoriter, terkhusus elit politik rivalitas rezim. Mereka berbondong-bondong mendirikan partai politik, yang semula hanya tiga partai politik, namun setelah awal reformasi mencetak 48 partai politik yang mengikuti Pemilu.

Para tokoh masyarakat menjadi primadona untuk menduduki posisi strategis dalam susunan partai politik. Tidak  heran, fokus elit politik kemudian berubah untuk memenangkan Pemilu yang segera digelar pada tahun 1999. Di tengah kebahagiaan rakyat Indonesia, keberagaman ideologi pun mendapat ruang gerak baru. Jika kita melihat pada Pemerintahan Orde Baru, Suharto merupakan seorang tokoh sentral dalam negara. Suharto memposisikan Pancasila sebagai sebuah ideologi yang komprehensif dan memonopoli kebenaran (Hakim, 2015). Pada kala itu, Suharto dapat dikatakan menjadi penafsir tunggal bagi Pancasila, yang mengakibatkan kematian terhadap ideologi dan pandangan politik lain yang berseberangan dengan pemerintah. Pancasila dengan tafsir tunggal ikut lengser bersamaan dengan runtuhnya Pemerintahan Orde Baru.

Dengan runtuhnya Soeharto, kini ideologi-ideologi nampak kembali hidup dalam liang kuburnya. Bahkan efek kebebasan semakin parah karena mengundang ideologi trans-nasional bergabung dalam dinamika kehidupan rakyat. Modusnya sangat familiar yakni dengan memanfaatkan kebebasan baik itu berpendapat, berkumpul dan berserikat. Dengan adanya hal tersebut, bukanlah hal yang mengejutkan lagi bahwa Indonesia kini menjadi tempat pertarungan antarideologi.

Terlebih, dengan masuknya globalisasi semakin menerjang eksistensi Pancasila. Arus globalisasi yang terus mengalir membuat ketidakstabilan antara seseorang maupun sekelompok menghadapi budaya asing yang masuk seketika. Nilai-nilai budaya global merupakan penyebab timbulnya masalah-masalah sosial, seperti kecemburuan sosial, meningkatnya konflik rasial dan lain sebagainya. Secara hakikatnya, bagi bangsa Indonesia merupakan ancaman terhadap keberadaan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup.

Budaya yang cenderung mengedepankan demokrasi, namun tidak mengedepankan sikap dan perilaku mengakibatkan kebhinekaan terus diuji, kekerasan bertebaran, bahkan membawa agama atau etnis. Sehingga tidak menutup kemungkinan, mengubah arah ideologi Pancasila merupakan jalan yang akan ditempuh bagi mereka yang memiliki sikap primordialisme. Bahkan sebutan-sebutan pribumi dan non-pribumi masih terdengar jelas di wilayah Zamrud Khatulistiwa ini. Padahal sejarah mencatat, sejak ribuan tahun yang lalu, Indonesia sudah menghadapi yang namanya tantangan global. Banyaknya sumber daya yang melimpah, membuat negara lain masuk ke Indonesia. Sehingga kata-kata pribumi dan non-pribumi tidak pernah relevan untuk digunakan.

Nasionalis vs Muslim: Pancasila Menjadi Objek Pertarungan?

Sejak runtuhnya Pemerintahan Orde Baru, ideologi-ideologi kembali menunjukkan taringnya. Kematian ideologi merupakan sesuatu hal yang sangat mustahil (Hakim, 2015). Setiap kegiatan politik yang dilakukan oleh para elit, tidak dapat dilepaskan dari agenda dan kepentingan politik yang diturunkan dalam prinsip dasar dan falsafah politik. Banyak sekali ideologi yang tumbuh di jantung bumi ibu pertiwi ini, seperti sosial demokrasi, anarko sindikalisme, liberalism dan banyak lainnya. Namun, Salah satu ideologi terbesar di Indonesia yang kini sedang berperang hebat adalah ideologi nasionalis dan ideologi Islamisme.

Ideologi nasionalisme merupakan ideologi yang memiliki kekuatan yang kuat dalam pergerakkan jalannya sebuah pemerintahan. Mereka melandaskan perbuatan mereka berdasarkan perasaan menjadi bagian dari sesuatu dan berfungsi dalam membangun kehidupan bernegara. Di Indonesia, ideologi nasionalisme merupakan ideologi yang lebih condong terhadap penanaman Pancasila sebagai ideologi, atau dengan kata lain nasionalisme merupakan sebuah ideologi yang mencerminkan kesetiaan dan pengabdian individu atau kelompok terhadap bangsanya. Mereka menjadi musuh bebuyutan bagi ideologi yang mengandalkan separatisme dan konflik yang membawa nama agama dan etnis. Namun, nasionalisme yang di gebuk-gebukan sejak dulu mulai menurun. Makna nasionalisme seolah terpaku diruang yang sempit dan sulit bergerak.

Ideologi Islamisme adalah gerakan modernisasi yang masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama Islam. Islamisme juga memiliki tujuan sebagai acuan umat Islam dalam menjalankan syariat Islam di bidang Politik, ekonomi, sosial serta budaya. jika kita bandingkan antara ideologi Islamisme dengan nasionalisme, mereka mampu tumbuh subur di Indonesia, ntah pengaruh mayoritas atau yang lainnya.

Jika kita melihat ke belakang, pertempuran antara kedua ideologi ini bukanlah hal yang asing lagi. Hal ini dapat dilihat dari perumusan Pancasila itu sendiri, dimana terdapat kelompok nasionalis serta Islamisme yang menjadi pemikir kala itu. Di sisi nasionalisme, mereka ingin menggunakan sila pertama menjadi ketuhanan dengan mencakup semua umat beragama, sedangkan menurut Islamisme mereka menginginkan bahwa Tuhan dengan syariat Islam lah yang harus menjadi dasar negara. Perdebatan keras pun terjadi diantara kedua pemikiran yang berbeda dan terwujudlah keinginan nasionalisme untuk menjadikan sila pertama sebagai ketuhanan bagi semua pemeluk agama di Indonesia.

Namun, keinginan untuk menjadi Indonesia sebagai negara Islam tidak berhenti begitu saja. Penyerangan PKI, serta gerakan separatisme lainnya pun bermunculan. Dengan kuatnya eksistensi Pancasila kala itu, sehingga gerakan gerakan tersebut tidak membuahkan hasil. Namun, pasca-reformasi lahir, ketenangan akan tidak adanya goncangan untuk membentuk negara Islam kian sirna. Munculnya gerakan Islam radikal dimana-mana yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam kembali menghantui Indonesia. Salah satu gerakan Islam yang masih hangat di telinga kita adalah ormas HTI, ormas ini memiliki tujuan untuk mengubah Negara Indonesia menjadi Negara yang bersyariat Islam.

Di tengah perdebatan yang panjang pun, ormas HTI dicabut status badan hukumnya Padahal jika kita melihat dengan mata terbuka, ketegangan-ketegangan tersebut merupakan buah dari tidak adanya kesamaan persepsi terhadap sebuah permasalahan. Kultur pendidikan keagamaan yang mulai mengendur, kurangnya kehadiran guru, mengakibatkan masyarakat khususnya masyarakat mudah menerima referensi keagamaan dan wawasan dari sumber yang tidak bertanggung jawab (Adiwilaga, 2017).

Pada akhirnya, kekacauan ini membuat masyarakat menjadi dua blok yang saling berlawanan. Padahal jika kita menelisik secara mendalam, umat muslim di Indonesia sangat menolak untuk mengubah negara Indonesia menjadi negara muslim. Bahkan, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menolak tegas adanya upaya itu. Sehingga, perlu adanya persamaan persepsi bagi kaum Nasionalisme dan kaum yang masih memegang teguh Islamisme untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menelaah Eksistensi Pancasila Pada Masa Depan

Dalam kehidupan di Indonesia, kedudukan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara mengalami dinamika yang tak menentu dalam segi pemahaman serta pengamalannya. Setelah jatuhnya Pemerintahan Orde Baru, Pancasila seolah-olah hilang kendali dalam pusaran sejarah yang tidak relevan lagi. Parahnya, Pancasila sebagai sebuah ideologi kini semakin jarang untuk diucapkan, dikutip bahkan dibahas baik dalam konteks ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan (Widisuseno, 2014). Eksistensi Pancasila kini semakin terpinggirkan dalam kehidupan bangsa Indonesia yang diwarnai dengan suasana demokrasi dan kebebasan politik. Pancasila yang dulu dibangga-banggakan sebagai dasar negara yang kokoh, kini nyaris kehilangan fungsi praktisnya, seolah hanya tinggal nama. Nasionalisme semakin luntur, primordialisme semakin menguat perkasa di Indonesia.

Di tengah pertarungan hebat antara ideologi di Indonesia, harus adanya upaya untuk memposisikan Pancasila kembali di bumi Ibu Pertiwi ini. Sejatinya, pembicaraan mengenai Pancasila bukanlah hal yang asing lagi, mengingat sudah banyaknya ahli membicarakan dasar negara kita ini. Ada yang menganggap indahnya kalimat yang tertuang Pancasila namun minusnya tindakan, dan banyak hal lainnya. Sehingga eksistensi Pancasila semakin tergoyahkan dan menimbulkan keraguan dalam pemahaman serta penghayatan dalam nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya. Padahal jika kita melihat seperti negara China mereka tidak dipersatukan dalam keberagaman, lalu kita bandingkan dengan Indonesia yang bersatu dalam keberagaman dengan kesaktian Pancasila.

Pengembalian citra bagi Pancasila harus benar-benar dilakukan. Melepaskan sifat primordialisme merupakan sebuah tindakan yang harus benar-benar dilakukan untuk menyelamatkan Pancasila. Menurut Kuntowijoyo perlu adanya sebuah proses radikalisasi Pancasila atau dengan kata lain revolusi gagasan untuk menjadikan Pancasila menjadi kokoh berdiri. Sudah seharusnya Pancasila kembali bersinar untuk menyatukan rakyatnya, menjalankan pemerintah dan ekonomi dengan berlandaskan Pancasila dan menciptakan kehidupan hukum berdasarkan Pancasila.

Referensi

Hakim, Muhammad Aziz. 2015. “Repositioning Pancasila Dalam Pergulatan Ideologi-ideologi Gerakan Di Indonesia Pasca-reformasi.” Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
Adiwilaga, Rendy. 2017. “Puritanisme dan Fundamentalisme dalam Islam Transnasional serta Implikasinya terhadap Pancasila sebagai Ideologi Bangsa.” Journal of Governance
Widisuseno, Iriyanto. 2014. “Asas Filosofis Pancasila Sebagai Ideologi Dan Dasar Negara.” HUMANIKA


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Esai yang diterbitkan dari, oleh dan untuk generasi Y dan Z.

Seorang anak pertama dari dua bersuadara yang terlahir dari keluarga sederhana, yang menyukai travelling dan anti denga kata "Menyerah"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.