Maraknya Kriminalitas di Tengah Bencana Pandemi COVID-19, Mengapa?

Kriminalitas dapat dikatakan penyimpangan yang selalu terjadi di masyarakat. Tindakan ini merupakan kegiatan yang melanggar hukum atau bisa disebut tindak kejahatan. Bahkan kita juga dapat bisa menyebutkan kata kriminalitas yang berasal dari kata crimen yang artinya kejahatan atau tindakan yang bersifat negatif. Parahnya, kriminalitas yang kerap kali terjadi saat ini ialah di tengah bencana dan kesengsaraan masyarakat, ketika pandemi virus corona mewabah, utamanya di Indonesia.

Pengertian kriminalitas sederhananya merupakan segala tindakan atau sesuatu yang dilakukan individu, kelompok, ataupun komunitas yang melanggar hukum atas suatu tindakan kejahatan, sehingga menganggu keseimbangan atau stabilitas sosial dalam masyarakat. Menurut E. Sahetapy dan B. Mardjono Reksodipuro, kriminalitas yakni kejahatan, setiap perbuatan yang diberi sanksi berupa pidana dan dilarang oleh masyarakat, karena melanggar norma-norma yang disepakati oleh masyarakat dalam kehidupan.

Pandemi corona virus disease 2019 atau COVID-19 menyerang Indonesia sejak awal bulan Maret. Sejak bulan Mei 2020, Kepolisian Republik Indonesia menyebut terjadi kenaikan angka kriminalitas di tengah pandemi. Berdasarkan data statistik kejahatan Polri, terjadi kenaikan 7,04% tingkat kriminalitas terhitung sejak awal bulan Mei. Tentu, hal ini sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat.

Ciri-Ciri Terjadinya Kriminalitas

Terjadinya kriminalitas, muncul jika kita tidak dapat mematuhi aturan yang ada di masyarakat. Pertama, di Indonesia sangat banyak masyarakat yang menderita kemiskinan, problem klasik dalam kehidupan sehari-hari dari ciri-ciri kriminal adalah alasan kemiskinan. Sangat seringkali dilontarkan sebagai  tameng dan pembenaran dari setiap pelaku kriminal yang tertangkap dan berharap mendapat keringanan dari jeratan hukum. Kriminalitas yang dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi ini memang paling terjadi, ketika masyarakat terdesak oleh kondisi sulit selama pandemi.

Kedua, nafsu yang tidak terkendali. Ketika individu menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu, beragam cara rela ditempuh untuk memenuhi nafsu tadi, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Misalnya saja, suatu individu melakukan pencurian untuk memenuhi atau karena nafsunya. Pola kejahatan selama masa pandemi, terlebih di beberapa daerah yang melaksanakan PSBB, pencurian terjadi di toko kelontong hingga  swalayan.

Ketiga, rasa benci yang pasti ada di diri setiap individu seseorang. Tindakan kriminal atau menyimpang yang dilakukan terpancing karena rasa benci di dalam hati seseorang atau kelompok pada seseorang, kelompok atau komunitas yang lain. Hal ini, secara nyata telah banyak terjadi di dalam kehidupan masyarakat.

Keempat, suasana atau lingkungan yang bersifat individualis. Acapkali individu yang dari lingkungan inndividualis akan selalu terjun bebas menjadi seorang kriminal. Oleh karena itu, lingkungan tadi mengarahkannya untuk egois dan menomersatukan dirinya dengan lingkungan sekitar.

Terakhir, sistem yang tidak  adil. Kita tahu “Negara Indonesia adalah negara hukum” yang terakomodasi pada UUD NRI Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3). Tujuan hukum sendiri adalah untuk memberi kepastian, kemanfaatan dan keadilan. Secara naluriah, manusia adalah pencemburu, terutama dalam hal kekayaan dan kekuasaan. Oleh sebab itu, kesenjangan yang lahir diikuti aksi-aksi kriminal untuk menyetarakan atau mengimbanginya.

Penyebab Kriminalitas Marak Terjadi

Dari awal kemunculan kriminalitas inilah, kita juga tahu penyebab dari tindakan kriminalitas adalah sebagai berikut: Pertama, terjadinya urbanisasi serta industrialisasi. Dimana keadaan yang diakibatkan dari urbanisasi dan industrialisasi di suatu negara, misal negara berkembang seperti Indonesia, pasti berada dalam posisi dilema perpindahan. Terlebih, warga Indonesia yang asalnya dari pelosok desa yang sulit mencari kerja akan pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Hal ini akan mengakibatkan ledakan penduduk yang nantinya menajdi penyebab naiknya tingkat kriminalitas. Pada kondisi saat ini, banyak dari pekerja rantau mengalami PHK, namun ketika mereka ingin kembali ke daerah asal, terganjal dengan aturan pemerintah terkait pelarangan berpergian ke luar kota.

Kedua, masalah terhadap kondisi-kondisi sosial. Beragam kondisi sosial sebagai penyebab kriminalitas yang dapat merugikan kehidupan manusia. Mislanya saja, beragam jenis pengangguran, kemiskinan yang makin menjamur, terlebih kondisi lingkungan yang mendukung individu melakukan kejahatan, kesenjangan sosial, juga tekanan mental serta adanya rasa kebencian terhadap seseorang individu.

Ketiga, yaitu moral dan karakter. Ini kunci dari individu atau kelompok melakukan atau tindakan melakukan kriminalitas adalah karena moralitas. Dalam hal ini, kriminalitas terjadi bukan karena ada celah, namun dari penilaian baik atau buruk dari seseorang. Ketika seseorang tidak bermoral atau amoral, maka dirinya tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka akan semakin menumbuhkan berbagai kriminalitas lainnya.

Keempat, degradasi mental yang terjadi dalam seseorang. Penyebab ini lahir dari tingkat stress, depresi, serta tidak menemukan tempat untuk melampiaskan rasa kesal. Hal itulah yang membuat seseorang melakukan kriminalitas supaya meredam degradasi mentalnya. Dengan kata lain, tindakan itu adalah wujud katarsisnya. Istilah katarsis diungkapkan oleh Sigmund Freud yang berarti pembersihan, penyucian diri, yang pada maksudnya merujuk pada pelepasan diri dari ketegangan.

Kelima, tingkat pendidikan yang rendah. Pendidikan yang masih mahal, sampai saat ini, juga belum menjamah sebagian masyarakat, menyebabkan terjadinya kriminalitas. Hal ini karena, mereka tidak memiliki pendidikan sehingga sulit untuk mendapat pekerjaan. Akan tetapi, di berbagai kasus, pendidikan yang tinggi pun tidak menjamin seseorang untuk tidak melakukan tindakan kriminal. Umumnya, mereka juga memiliki jabatan tinggi. Jenis kejahatan ini disebut dengan istilah white collar crime.

Bagaimana Cara Mengentaskan Kriminalitas?

Hingga kini, para aparat penegakan hukum sedang gencar-gencarnya menegakkan aturan terkait pemutusan mata rantai penyebaran COVID-19. Namun, kasus-kasus kriminal pun tetap terjadi terlebih pada masa Ramadhan hingga lebaran Idul Fitri tahun ini. Tingginya tindakan kriminalitas berdampak pada kenyamanan dan  keamanan di dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun rasa solidaritas dalam diri untuk semakin kompak dan solid memberantas kriminalitas. Pada dasarnya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka, ketika faktor penyebab dan ciri-ciri kriminalitas dimulai dari kemiskinan, penting bagi kita untuk menciptakan kesadaran sosial, gotong royong, dan bahu-membahu membantu mereka yang membutuhkan. Di sisi lainnya, pemerintah selaku pihak yang paling bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat rakyat kecil, perlu mengakomodasi hak-hak rakyat seperti, kebutuhan pangan, lahan pekerjaan, sanitasi kesehatan, hingga kesejahteraan. Sudah saatnya kita bersatu, karena dengan bersatu kita akan kuat. Semoga lekas usai #COVID19


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Esai yang diterbitkan dari, oleh dan untuk generasi Y dan Z. Submit esaimu secara mandiri di sini ya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments