Juli 3, 2020

Legal Risk Management, Paradigma Baru Pengelolaan Risiko Hukum (1)

Dahulu, rata-rata usia kehidupan manusia relatif pendek sekitar 30 sampai 40 tahun. Hal ini terjadi karena zaman dulu saat mencari makanan dan tempat berlindung cukup besar, mereka harus menghadapi risiko dan bahaya dari serangan hewan buas, risiko pergantian cuaca, susahnya mencari makanan, risiko perang, risiko banyak penyakit yang muncul. Risiko yang muncul saat itu mampu membinasakan atau membunuh manusia dengan cepat. Namun, orang zaman dahulu memilih untuk mengambil risiko tersebut dengan berlindung didalam gua, memiliki senjata seadanya dan makan minum atas hasil alam. Oleh karena itu, risiko sebenarnya telah hadir sejak zaman dulu namun konteksnya masih secara fisik, mereka menghindari risiko untuk bertahan hidup dari kelaparan bahkan meninggal dunia.

Kesadaran akan risiko harus dipahami secara mendasar melalui kehidupan sehari-hari karena dalam kehidupan hingga saat ini pasti tidak terlepas dari risiko yang terjadi.

Defisini dan Prinsip Risiko

Pengertian Risiko menurut Otoritas Jasa Keuangan (2016) adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Definisi ini juga dijelaskan oleh Hubbard (2009) dimana risiko sebagai “probability and magnitude of loss, disaster or other undesirable event” yang berarti risiko adalah suatu probabilitas, kerugian, bencana, atau peristiwa yang tidak diharapkan. Dan definisi risiko menurut Vaughan (1978) dalam Darmawi (2016) yaitu:

  1. Risiko adalah kans kerugian
  2. Risiko adalah kemungkinan kerugian
  3. Risiko adalah ketidakpastian
  4. Risiko merupakan penyebaran hasil actual yang diharapkan
  5. Risiko adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dari yang diharapkan.

Maka dari uraian pengertian tentang risiko diatas dapat disimpulkan bahwa risiko merupakan potensi kerugian yang terjadi akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu (chance of bad outcome). Dimana suatu kemungkinan akan terjadinya hasil yang tidak diinginkan yang dapat menimbulkan kerugian apabila tidak diantisipasi serta tidak dikelola dengan baik.

Menurut Suprapto dan Hakim (2013) terdapat 10 prinsip yang harus dipegang teguh dalam mengelola manajemen risiko, yaitu :

  1. Risiko itu dapat muncul dimana-mana
  2. Risiko adalah ancaman dan peluang
  3. Risiko merupakan kombinasi dari bahaya dan peluang yang dapat menguntungkan
  4. Tidak semua risiko itu diciptakan sama
  5. Risiko dapat diukur secara kuantitatif
  6. Alat untuk mengakses risiko dan output dari penilaian risiko harus dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan daripada proses lainnya.
  7. Kunci manajemen risiko yang baik adalah hubungan anatar risiko yang harus dihidari, risiko yang harus diambil dan risiko yang harus dieksploitasi.
  8. Untuk mengelola risiko secara benar, kita harus memahami apa yang menentukan nilai suatu bisnis dapat meningkat.
  9. Mengola risiko dengan baik merupakan inti utama dari suatu praktik bisnis yang baik dan merupakan tanggung jawab semua orang
  10. Untuk keberhasilan suatu manajemen risiko, kita harus menanamkan dalam aktivitas sehari-hari yang menjadi kebiasaan atau habit dan mampu menciptakan budaya sadar risiko dalam suatu organisasi

Klasifikasi risiko menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor  18/POJK.03/2016 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum pasal 4 terdapat delapan risiko yang terdiri atas :

  1. Risiko Kredit;
  2. Risiko Pasar;
  3. Risiko Likuiditas;
  4. Risiko Operasional;
  5. Risiko Hukum;
  6. Risiko Reputasi;
  7. Risiko Stratejik; dan
  8. Risiko Kepatuhan.
Paradigma Manajemen Risiko

Saat ini yang harus dipahami adalah adanya pergerseran definisi terkait dengan risiko. Dalam paradigm lama menyatakan bahwa terhadap hubungan positif antara risiko dan tingkat keuntungan (risk and return). Semakin tinggi risiko, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang akan diperoleh. Jadi apabila suatu kelompok, individu atau perusahaan yang berorientasi pada profit ingin meningkatkan keuntungan maka dia harus berani mengambil keputusan untuk meningkatkan risikonya. Namun pandangan tersebut mulai bergeser, menurut Hanafi (2009) pandangan baru menyatakan bahwa hubungan antara risiko dan tingkat keuntungan tidak bersifat liniear, tetapi kuadratis dimana perusahaan harus mampu mengelola risiko dengan baik agar keuntungan yang diperoleh akan lebih optimal dan lebih besar. Hal tersebut digambarkan dalam kurva sebagai berikut yaitu hubungan risiko dan tingkat keuntungan:

Paradigma Lama:                 Paradigma Baru:

Semakin tinggi risiko            Risiko harus dikelola secara optimal

semakin tinggi imbal hasil

yang didapat

 

 

 

 

 


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi pemikiran pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Submit esaimu secara mandiri di sini ya.

Baca juga:  Legal Risk Management, Paradigma Baru Risiko Hukum (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.