Juli 7, 2020

Kerusuhan Rasisme di Amerika: Dari Aksi Damai, Berakhir Penjarahan dan Respon Internasional

Kondisi pandemi COVID-19 mengharuskan setiap orang menjaga jarak atau physical distancing, nampaknya tak menjadi masalah bagi warga Amerika Serikat, khususnya di Minneapolis untuk melancarkan aksi demonstrasi. Aksi protes dilancarkan masyarakat Amerika untuk menuntut keadilan dan juga mengangkat kembali upaya menghilangkan rasisme. Unjuk rasa tersebut terjadi setelah terdapat pembunuhan terhadap seorang Afrika-Amerika yang bernama George Floyd (46) yang dilakukan oleh seorang anggota kepolisian bernama Derek Chauvin. Floyd meninggal dengan cara yang mengenaskan, setelah lehernya diinjak dengan posisi berlutu oleh seorang petugas polisi selama kurang lebih tujuh menit. Polisi tersebut sedang melakukan penangkapan atas tuduhan kasus yang belum diketahui kebenarannya. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa terdapat laporan pemalsuan terhadap Floyd. Sehingga, secara sepihak polisi tersebut menyiksa Floyd tanpa rasa kemanusiaan didasarkan rasisme.

Mengapa insiden ini memicu demonstrasi besar-besaran?

Sebenarnya penangkapan Floyd masih belum jelas sebabnya, ada yang menyatakan bahwa Floyd ditangkap akibat dugaan pemalsuan uang dan ada pula yang mengatakan Floyd ditangkap akibat dugaan pemalsuan tiket lottery. Kasus ini menjadi ramai diperbincangkan karena tersebarnya video pada saat penangkapan Floyd. Jelas sekali, pada video tersebut menampilkan Floyd sedang diinjak leher belakangnya menggunakan lutut seorang polisi. Floyd tak bisa berkutik dan hanya dapat berkata “I can’t breathe“. Dalam posisi tersebut, ia memohon kepada polisi untuk diberikan kesempatan bernafas. Sayang, tak perlu waktu lama, nyawa Floyd akhirnya melayang tanpa rasa keadilan.

Beredarnya video polisi yang tak berperikemanusiaan itulah yang mengakibatkan timbul demonstrasi besar besaran. Demonstrasi tersebut ditujukan untuk menuntut keadilan, menuntut pemberian hukuman kepada petugas polisi yang terlibat. Bukan sesuatu yang pertama kali terjadi di Amerika, banyaknya perlakuan yang tidak adil didasarkan atas ras seseorang menjadi latar belakang demonstrasi ini turut mengangkat Pemberatasan Rasisme sebagai agenda utama dalam demonstrasi. Memang, isu Rasisme masih menjadi hal yang sering terjadi di Amerika Serikat, maka secara otomatis demonstrasi ini banyak sekali didukung oleh berbagai pihak sehingga demonstasi yang terjadi menjadi semakin besar setiap harinya.

Demonstrasi Berujung pada Aksi Anarkis Hingga Penjarahan

Pada awalnya, demonstrasi berjalan secara baik-baik dan damai. Warga saling berbagi rasa frustrasi dan duka dengan cara melakukan unjuk rasa sambil meneriakkan “Saya tidak bisa bernafas” dan “Itu bisa saja saya”. Salah satu pengunjuk rasa menyerukan bahwa mereka tidak dapat menoleransi apa yang telah terjadi dan juga mereka menegaskan bahwa akan ada konsekuensi yang lebih berat, apabila mereka (para polisi) terus membunuhi warga.

Para pengunjuk rasa juga senang, pada saat mendengar para petugas polisi yang terlibat dalam insiden tersebut telah dipecat. Meskipun demikian, mereka berpendapat bahwa keadilan sesungguhnya tidaklah berjalan sebelum dijatuhkan yang namanya dakwaan dan vonis. Demonstrasi pun tetap berlanjut, pengunjuk rasa mulai berjalan menuju 3rd Precinct, alamat yang diyakini tempat para polisi bekerja. Seiring dengan berjalannya demonstrasi, terdapat pengunjuk rasa yang menginisiasi vandalisme, dari sinilah situasi mulai menjadi ricuh. Para pengunjuk rasa pun melempar cat dan merusak mobil-mobil polisi, merusak bangunan-bangunan, merusak pagar Kantor Polisi, hingga membakarnya. 

Kericuhan yang terjadi diperparah setelah polisi dengan perlengkapan antihuru hara muncul dan menembakkan gas air mata serta granat asap kepada para demonstran. Menurut kesaksian salah seorang pengunjuk rasa, pengunjuk rasa telah memberikan tanda damai, namun para polisi tetap menembakkan gas air mata. Berkaitan dengan serangan yang dilancarkan oleh pihak kepolisian, pengunjuk rasa membalasnya dengan lemparan batu, botol air minum, dan apa pun yang bisa mereka raih.  

Dengan adanya bentrokan antara polisi dan juga pengunjuk rasa tersebut, mengakibatkan hingga saat ini aksi demonstrasi yang dilakukan menjadi lebih anarkis. Bangunan hingga toko, yang tak berhubungan dengan aksi demonstrasi, ikut dibakar. Bahkan, pertokoan yang berada di sekitar lokasi unjuk rasa menjadi target penjarahan. Aksi ini pun tidak hanya terjadi di Minneapolis, akan tetapi juga merambat ke negara bagian yang lain. Kejadian ini membuat demonstrasi di Minnesota tercatat telah 100 orang ditahan, sebagian besar karena pasal kepemilikan senjata. Menurut media setempat, dari demonstran yang ditangkap, sebanyak 20% diketahui berasal dari luar negara bagian Minnesota.

Kerusahan yang diperparah oleh penjarahan ini terlihat teroganisir, yang mana baru-baru ini ditemukan para penjarah memegang handie talky pada saat melakukan penjarahan. Tak hanya di Minneapolis, kondisi isi juga  ditemukan di Minnesota, New York, Miami, Atlanta, Los Angeles, Philadelphia, Portland dan Louisville. Bahkan, beberapa negara bagian tersebut mengumumkan pemberlakuan jam malam.

Berbagai Respon Bermunculan Menanggapi Aksi yang Terjadi

Berkaitan dengan aksi yang terjadi ini, banyak sekali respon bermunculan. Tidak hanya dari dalam Amerika itu sendiri, akan tetapi juga berasal dari luar Amerika, berupa:

  1. Respon warganet seluruh dunia mengecam terhadap perlakuan seorang petugas polisi yang telah mengakibatkan hilangnya nyawa George Floyd serta mengecam terhadap sering terjadinya rasisme, khususnya di Amerika Serikat. Warganet pun melancarkan protesnya dengan menyerukan tagar #BlackLivesMatters dan juga ajakan menandatangani petisi yang berkaitan dengan insiden ini.
  2. Tiongkok juga tak luput dalam memberikan respon atas apa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Hu Xijin, Pemimpin Redaksi Tabloid Nasional Global Times menuliskan “Ketua DPR AS Nancy Pelosi pernah menyebut protes kekerasan di Hong Kong ‘Pemandangan yang indah untuk dilihat….’. Politisi AS sekarang dapat menikmati pemandangan ini dari jendela mereka sendiri.” Yang mana, jelas sekali tanggapan tersebut merupakan serangan berupa sindirian kepada Amerika Serikat.
  3. Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat memberikan responnya terhadap apa yang terjadi di negaranya, berbeda dengan respon yang telah tersebar. Trump menuding ANTIFA (Anti Fasis) merupakan dalang dari kerusuhan ini. Trump juga menuliskan dalam cuitan Twitter nya bahwa Amerika Serikat akan memasukkan ANTIFA sebagai organisasi teroris.
  4. Respon juga datang dari sekelompok hacker yang berafiliasi dengan hacker dunia “Anonymous”. Para hacker tersebut muncul dalam sebuah video seseorang dengan topeng sedang membacakan kecaman mereka diselingi video-video kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian pada saat melakukan penangkapan. Kelompok hacker tersebut juga mengancam akan menyebarkan tindakan kepolisian yang tidak seharusnya tersebut ke seluruh dunia agar dunia tahu.
Pelanggaran Hukum Apa Saja yang Terjadi dalam Aksi ini ?

Pada aksi ini tentu saja terdapat pelanggaran hukum yang mana pelanggaran hukum tersebut tidak hanya berasal dari pihak kepolisian saja maupun juga dari para pihak demonstran. Pelanggaran hukum tersebut seperti:

    1. Penangkapan yang dilakukan oleh Derrek Cauvin tidak sesuai dengan protokol yang ada dalam kepolisian dan juga tindakannya yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tentu merupakan pelanggaran hukum;
    2. Perusakan gedung dan fasilitas umum yang dilakukan oleh para demonstran pada saat aksi ricuh;
    3. Aksi vandalisme yang dilakukan oleh para demonstran yang dilancarkan kepada properti kepolisian;
    4. Aksi penjarahan yang dilakukan oleh para demonstran yang mengakibatkan kerugian kepada para pemilik usaha.

Semoga aksi ini dapat segera berakhir serta para pelanggar hukum dan pembuat onar dapat ditindak secara hukum yang adil. Tentu, semoga pesan dalam aksi demontrasi di Amerika Serikat yakni tidak boleh ada lagi rasisme menjadi tersampaikan, supaya dapat membuka mata hati masyarakat di seluruh dunia, bahwa rasisme tindakan amoral dan tak berperikemanusiaan.


kawanhukum.id merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi idea dan pemikiran para pembaru dan pemerhati hukum Indonesia. Esai yang diterbitkan dari, oleh dan untuk generasi Y dan Z.

One Comment

  1. Divayonly

    Pernahkah berpikir kenapa harus ada penjarahan? Setidaknya kita tahu bahwa setiap demo bukan hanya berisi orang yg ‘asli’ menyuarakan keadilan tapi orang yg ‘ajimumpung’ …
    Good article…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.