Hari ini:Oktober 20, 2019

Jadi Anak Kecil Bisa Seenaknya?

Well… Hai, Kawan!

Problema hukum yang terjadi di Indonesia memang banyak dan bisa dikatakan mengalami carut-marut. Mengapa? Para pelakunya kini bukan lagi orang-orang dewasa yang bisa dengan mudah dimasukkan bui. Belakangan ini, anak-anak usia di bawah umur kerap menjadi pelakunya. Hingga tak jarang kasus yang menjerat mereka hanya berakhir damai. Seperti yang terjadi pada beberapa dekade belakangan ini. Banyak tindak pidana yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Seperti yang kita ketahui, di negara kita usia di bawah 18 tahun dianggap masih anak-anak.

Beberapa bulan yang lalu kita sedang diramaikan sekaligus dipusingkan dengan tagar “JusticeforAudrey”. Kita semua sudah tahu kalau Audrey ini merupakan seorang siswi SMP di Pontianak yang menjadi korban penganiayaan sekaligus perundungan. Perundungan atau kerap kita kenal dengan istilah “pembullyan” adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya (Sejiwa, 2008).

Kasus Audrey ini bahkan sempat menjadi trending topic di twitter, para pengguna media sosial turut prihatin dan menunjukkan rasa simpatinya dengan berbagai cara. Sampai-sampai muncul petisi online yang ditujukan kepada Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPAD) dengan tujuan mengecam tindakan anarkis dari pelakunya dan berharap agar kasus ini tidak berakhir damai. Bak “people power”, petisi tersebut dengan cepat ditandangani oleh netizen. Netizen dibuat geram dengan tingkah para pelaku yang seolah tidak punya rasa bersalah.

Okay, mari sedikit mengingat! Pelaku yang terdiri dari beberapa siswi SMA ini mengeroyok Audrey lantaran kesal dengan kalimat di status yang Audrey bagikan. Usut punya usut, tetap saja akar masalahnya adalah asmara. Seiring beberapa hari, kasus ini tak banyak mengalami perkembangan. Justru malah membuat bingung netizen kita. Muncul kabar-kabar burung bahwa sebenarnya kronologi kejadian yang tersebar beberapa hari yang lalu itu berbeda dengan yang terjadi sebenarnya. Kasus ini terancam berakhir di jalur damai dan para pelaku sebatas melontarkan kata “maaf” lalu semuanya selesai. Namun, khalayak ramai habis-habisan menuntut pihak terkait untuk membawa para pelaku ke meja hijau mengingat kejamnya tindakan pelaku terhadap Audrey. Audrey yang tengah dirawat di rumah sakit kala itu hanya mengharap simpati dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Singkat cerita, nih, polisi mengumumkan hasil visum dan hasilnya mengejutkan netizen dan para simpatisan Audrey! Mengapa? Polisi memaparkan tidak ada luka, lebam, memar, ataupun yang lainnya. Bahkan di daerah kemaluan yang katanya juga menjadi sasaran pelaku pun tidak ditemukan apa-apa. Hari ke hari muncul pula spekulasi baru, masyarakat di sini seperti terbagi dua. Ada yang pro, ada yang kontra. Kelompok yang kontra di sini mengumpulkan fakta-fakta terbaru yang mereka cari lewat akun sosmed Audrey.

Audrey pernah memberikan pernyataan bahwa ia sama sekali tidak mengenal para pelaku. Namun netizen menemukan Audrey pernah berfoto bersama dengan pelaku. Selain itu, anggapan khalayak tentang sosok Audrey yang polos nan lugu runtuh. Status fb dan postingan ig yang lama di akun Audrey menjadi viral. Tentu saja! Ternyata dari situ Audrey memang bukan anak lugu dan polos, cuitan-cuitannya tak pantas untuk anak yang duduk di bangku SMP. Dari sini, netizen dibuat geram apalagi yang pro dengan Audrey sebelumnya. Mereka merasa dibohongi oleh “bocah”. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, berkunjung ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk melihat langsung penanganan perkara Audrey ini. Menurut beliau, penganiayaan ini  pada kenyataannya tidak seperti yang tersebar di media sosial.

Bagaimana kabar para pelaku?

Masyarakat terlanjur geram dan netizen sudah terlanjur menghujat mereka, memaki-maki. Mereka menolak untuk menandatangani kesepakatan diversi dan tidak menyetujui poin-poin di dalamnya. Mereka tidak merasa melakukan pengeroyokan, apalagi sampai 12 orang. Pihak keluarganya pun enggan menyetujui poin-poin tersebut. Selama kasus ini, para pelaku juga merasa tertekan dengan bullying maya dari netizen. Syukurlah, mereka masih mau untuk meminta maaf. Mereka juga berharap netizen tidak lagi menghakimi, apalagi melakukan ancaman verbal dan fisik. Polisi juga menetapkan bahwa ini hanyalah penganiayaan ringan, sebab tidak ditemukan luka parah yang dikhawatirkan para netizen. Menurut Kapolresta Pontianak, Kombes M. Anwar Nasir, ketiga tersangka dikenai Pasal 80 Ayat 1 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara 3,6 tahun.

Lantas, apa yang bisa disimpulkan? Dari sini, kita sebagai netizen perlu memandang kasus yang beredar dari dua sudut pandang. Jangan bergegas menghakimi pelaku. Kalo gini, kan jadi malu! Berasa dikerjain oleh segelintir bocah, ya ngga sih? Dari sini pula kita bisa beranggapan bahwa menjadi “anak kecil” bisa seenaknya. Benar, kan? Bebas menggiring opini publik, bebas membuat cerita ala-ala, bebas ngeroyok, bebas bandel tanpa khawatir masuk bui. Penegakan hukum Indonesia terhadap para pelaku di bawah umur masih sangat loyo. Jika jelas-jelas masuk kategori berat harusnya langsung saja masuk bui tanpa lewat diversi terlebih dahulu. Di luar sana masih banyak kasus-kasus perundungan seperti ini yang jauh lebih parah dan jauh dari kata drama dan berakhir tidak adil bagi pihak korban. Sayangnya, tidak mendapat perhatian kita.

Namun, terlepas dari kejanggalan-kejanggalan di kasus Audrey ini kita harus mengecam betul tindakan bullying ini, terlebih kepada anak. Dampak psikologis yang dirasa akan terus membekas dan memberi efek buruk terhadap tumbuh kembang anak. So, jangan sok iye deh. Ngebully itu ga keren, lho! Oh iya, “berani melawan” juga perlu ditanamkan sejak dini agar besok generasi kita bukan generasi yang manja dan cengeng.

People who love themselves, don’t hurt other people. The more we hate ourselves, the more we want others to suffer

Dan Pearee

Share

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember