Hukum Menyebarkan Foto Pribadi dan Mengambil Foto Milik Orang Lain

Hidup di era sekarang membuat masyarakat merasa lebih mudah dengan adanya perkembangan teknologi dan komunikasi. Teknologi seakan melepas batasan jarak yang ada sehingga kita dapat melakukan berbagai kegiatan seperti transaksi, penyampaian pendapat dan berekspresi hingga berkomunikasi dengan mudah. Tetapi, kemudahan akses terhadap informasi dan kegiatan ini bukan tanpa risiko.

Banyaknya kejahatan kriminal dalam dunia maya atau cybercrime menjadikan masyarakat merasa was-was terutama acapkali kegiatan di internet menyangkut personal data. Salah satu bentuk cybercrime yang sedang marak akhir-akhir ini adalah penyebaran gambar pribadi kita seperti teman atau pacar yang mengancam akan menyebarkan gambar pribadi jika tidak memenuhi tuntutan yang diberikan atau banyak juga di antara kita yang senang berbagi gambar-gambar yang dirasa menarik untuk dibagikan karena dirasa menghibur atau sekadar dapat menarik perhatian.

Satu hal yang disayangkan adalah ketidaktahuan masyarakat terkait bagaimana pembatasan konten yang dapat disebarkan yang berujung pada sikap tindak diam karena takut. Lantas, bagaimana hukum memandang kejahatan tersebut dan bagaimana solusinya?

Foto Sebagai Bentuk Ekspresi

Foto adalah sebuah produk kekayaan intelektual dan ekspresi individu berupa citra terhadap suatu objek yang bernilai seni. Di dalam sebuah foto terdapat unsur-unsur seperti brightness hingga balances. Foto sendiri adalah representasi dari apa yang berusaha kita tampil dan sampaikan kepada orang lain secara real atau nyata. Karena merupakan bentuk ekspresi seseorang, membidik suatu objek gambar bukan tanpa batasan.

Pada ranah formal jurnalistik, sangat jelas sebagaimana terdapat dalam Kode Etik Wartawan Indonesia pasal 4: “Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila”.

Kode etik ini menjadi pedoman bukan hanya bagi wartawan dan jurnalis, tetapi bagi seluruh masyarakat yang memiliki akses terhadap sebuah foto.

Penggunaan foto pun tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena terdapat hak cipta yang dimiliki oleh si pemilik foto dan foto yang hendak digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh hukum. Adapun definisi daripada hak cipta itu sendiri adalah:

“ Hak Cipta merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang lingkup objek dilindungi paling luas, karena mencakup ilmu pengetahuan, seni dan sastra (art and literary) yang di dalamnya mencakup pula program komputer
.” (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual)

Apabila kita hendak menggunakan suatu gambar, sudah selayaknya mendapat izin dari pemilik gambar secara langsung. Apabila dikehendaki, pemilik gambar akan memberikan sebuah lisensi terkait dengan penggunaan gambar tersebut. Lisensi sendiri adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait lepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkait dengan persyaratan tertentu.

Macam Simbol pada Hak Cipta

Saat berselancar di dunia maya, pernahkah ketika kita hendak mengambil gambar dari internet, kita menemui sebuah symbol atau lambang kecil yang tertera pada sudut tulisan atau gambar? Simbol tersebut tentu memiliki artian tersendiri yang patut untuk diketahui. Jadi, masyarakat tidak bisa serta merta mengambil gambar karena dapat dikenakan sanksi atas dugaan pencurian hasil kekayaan intelektual. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. Copyright (Hak Cipta) dengan simbol C
Simbol © dapat dipakai sebagai pemberitahuan hak cipta atas semua hasil kerja kreatif (Sastra, artistik, dan sebagainya) yang diatur di Indonesia oleh UU REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 tentang HAK CIPTA.

B. Registered Trademark (merek terdaftar) dengan simbol R
Simbol ® digunakan sebagai pemberitahuan merek dagang dari sebuah produk komersial berupa barang atau jasa yang telah terdaftar dalam Kantor Paten Nasional. Hak eksklusif dari sebuah merek dagang terdaftar akan terus dimiliki sepanjang merek dagang itu di-register ulang oleh pemiliknya secara rutin (biasanya tiap 5 tahun). Dengan kata lain, simbol ini dapat disematkan jika merek dagang sudah terdaftar secara resmi.

Bagaimana jika produk tersebut digunakan oleh orang dari negara lain? Adapun untuk merek yang telah terdaftar secara lokal agar bisa diakui secara internasional, maka harus di daftarkan pada negara di departmen yang berkaitan, contoh: di Belanda, dapat didaftarkan di Netherlands Chamber of Commerce. Pendaftaran ini dilakukan dengan harapan produk yang kita miliki mendapat perlindungan pada negara yang bersangkutan.

Hal serupa berlaku pula untuk merek internasional yang selayaknya didaftarkan juga di Indonesia melalui Direktorat Hak Kekayaan Intelektual di bawah Departemen Hukum dan HAM.

C. Trademark (merek dagang) dengan simbol TM
Simbol ™ digunakan sebagai notifikasi bahwa sebuah merek dagang dari sebuah produk atau jasa komersial masih dalam proses pendaftaran secara resmi di Kantor Paten Nasional suatu negara. Jadi, proses pendaftaran suatu produk kita telah disetujui menggunakan proses ini, namun produk yang dihasilkan belum terdaftar secara resmi.

Penyebaran Gambar Pribadi

Seringkali kita menemui fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang masih awam apabila menemui masalah seseorang yang memiliki akses terhadap gambar pribadi kita seperti pornografi dan ketelanjangan serta mengancam akan menyebarluaskannya jika kita tidak menuruti tuntutan daripada si pelaku.

Bagaimana hukum daripada kasus tersebut?

Pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Pasal 26, disebutkan:
Kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan.

Jadi, apa yang dilakukan oleh si pelaku jelas salah dimata hukum karena tidak mendapat persetujuan dari pihak terkait.

Adapun dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Pasal 4 ayat (1) disebutkan:
Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b.  kekerasan seksual;
c. masturbasi atau onani;
d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
e. alat kelamin; atau
f.  pornografi anak “

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan dengan sengaja menyebarluaskan foto pribadi (pornografi dsb) melanggar hukum dan tentu dapat dikenai sanksi pidana. Bagaimana Sanksi pidananya?

Hal ini diatur lebih lanjut dalam Pasal 29 yang menyatakan:
Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar.”

Sanksi untuk hal serupa juga diatur dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang menyatakan:
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.”

Oleh karenanya, dengan demikian apabila terdapat kasus baik penggunaan gambar tanpa izin, penyalahgunaan gambar hingga penyebar luasan gambar pribadi kita dapat melaporkannya kepada pihak yang berwenang dengan dasar hukum regulasi di atas.


kawanhukum.id merupakan platform digital berbasis website yang mewadahi ide Gen Y dan Z tentang hukum Indonesia. Tulisan dapat berbentuk opini, esai ringan, atau tulisan ringan lainnya dari ide-idemu sendiri. Ingin tulisanmu juga diterbitkan di sini? Klik tautan ini.



College student of Universitas Indonesia's lawschool. A fulltime learner

Tinggalkan Balasan