Juli 3, 2020

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Kita Harus Apa? #40Seconds

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia jatuh pada tanggal 10 September. Peringatan ini digagas oleh Internasional Association for Suicide Prevention, sebuah organisasi internasional yang didirikan oleh mediang Prof. Erwin Ringel dan Dr. Norman Farberow pada tahun 1960. Asosiasi ini didedikasikan untuk pencegahan bunuh diri, mengurangi efek bunuh diri, serta menyediakan forum bagi akademisi, professional, terutama penyintas bunuh diri itu sendiri.

Indonesia pada UUD NRI 1945 Pasal 28A mengakomodasi hak untuk hidup dan melangsungkan kehidupan bagi seluruh rakyatnya. Jaminan hak hidup juga tercantum pada UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karena akomodasi dan jaminan hak untuk hidup itu, menjadi sebuah tanggung jawab antar setiap manusia untuk saling menjaga hak hidup masing-masing.

Berhakkah kita mengakhiri hidup?

Mengakhiri hidup atau bunuh diri merupakan hal yang tidak rasional. Keinginan bunuh diri dilakukan dalam posisi pikiran manusia sedang tidak stabil atau tak normal. Hal ini didorong oleh depresi, gangguan jiwa, dorongan impulsif, hingga titik dimana manusia mencapai keputusaan dalam kehidupan. Oleh karenanya, sungguh bukan menjadi pilihan antara hidup dan mati, karena selayaknya manusia harus hidup dan melangsungkan kehidupan.

Menjaga diri kita sama pentingnya dengan menjaga diri orang lain. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XV tentang Meninggalkan Orang yang Memerlukan Pertolongann mengatur ancaman pidana yang diakibatkan membiarkan orang lain di depan mata yang harusnya ditolong. Pasal 304 KUHP akan menghukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan bagi mereka yang sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan.

Salah satu kasus bunuh diri yang menggemparkan tanah air terjadi dua tahun yang lalu. Kasus tersebut terbilang aneh dan memalukan, seorang pemuda di Jagaraksa, Jakarta Selatan bunuh diri secara live streaming di Facebook. Pada dasarnya, pemuda itu bimbang, apakah ia harus melanjutkan aksinya bunuh diri atau tidak. Dapat disimpulkan bahwa, mereka yang mencoba bunuh diri sedang dalam posisi kebingungan dan kesakitan, perlu sesosok orang yang mampu memberikan kepercayaan dan cinta kasih supaya niat bunuh diri itu tidak jadi dilakukan.

Apa faktor penyebab bunuh diri?

Secara global, World Health Organization (WHO) menyebut ada 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri per tahun. Dari berbagai kasus bunuh diri tersebut, sebanyak 75% terjadi di negara-negara berpendapatan ekonomi rendah hingga menengah. Selain itu, bunuh diri merupakan peringkat kedua penyebab kematian seseorang berusia 15-19 tahun.

Faktor penyebab bunuh diri disampaikan pada makalah berjudul Suicide Prevention in Indonesia: Provinding Public Advocacy oleh seorang psikiater lulusan Universitas Gajah Mada, Ronny T. Wirasto mengatakan faktor kesehatan mental, faktor ekonomi, faktor sosial, hingga faktor budaya sangat berpengaruh pada tingginya angka bunuh diri di Indonesia.

Faktor-faktor tersebut dipicu oleh berbagai tekanan yang mempengaruhi neuropsikologis. Terlebih kepada anak muda yang mengalami broken home, bullying, tugas sekolah yang menumpuk, dan lingkungan sangat mempengaruhi.

Apa yang harus kita lakukan?

Kasus percobaan bunuh diri di dunia setidaknya menyebabkan satu orang meninggal setiap 40 detik sekali. Internasional Association for Suicide Prevention dan World Health Organization berkomitmen melakukan pencegahan bunuh diri. Tema peringatan tahun ini ialah Working Together to Prevent Suicide yang akan dipertahankan hingga tahun 2020. Maka, yang terpenting adalah hal apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah keluarga, saudara, kerabat, hingga orang yang kita tidak kenal pun terhindar dari bunuh diri dan percobaan bunuh diri.

WHO menerapkan sebuah program yaitu 40 Seconds of Action untuk mencegah bunuh diri. Gunakan 40 detik kita untuk menghubungi orang yang kamu percaya ketika kamu merasa ‘galau’. Luangkanlah waktumu 40 detik untuk berinteraksi positif dengan orang lain. Serta, sempatkan 40 detikmu untuk menebarkan semangat dan menginformasikan pentingnya kesehatan mental.

Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI membuka saluran telepon pelayanan konseling untuk permasalahan kejiwaan selama 24 jam sejak tahun 2010. Siapapun yang berkeluh kesah seputar bunuh diri ke hotline (021) 500-454. Sayangnya, layanan hotline tersebut telah mati. Semoga hotline cegah bunuh diri ini segera dihidupkan kembali.

Yuk, sayangi dirimu dan orang lain di sekitarmu, jangan anggap bunuh diri hal yang sepele. Jadilah pendengar yang baik dan jangan malu untuk berkonsultasi ke psikolog. Ingat, apapun yang terjadi, pasti ada jalan keluarnya. Tenangkan dirimu dan bila perlu lakukan meditasi. Mari bermeditasi klik di sini.

 

Before anything else, find yourself, be yourself. And love yourself

Anonymous

Lebih akrab dengan sapaan Shofi Hoo. Lahir di kota terpencil tak membuat hatinya kecil. Lahir di daerah tertinggal tak membuat semangatnya pudar. Bangga menjadi minoritas yang terbuang, terpinggirkan, tersisihkan.