Hak Berpendapat di Indonesia

Indonesia, negara dengan berbagai budaya dan bahasa yang terkenal dengan kebhinekaannya. Sebagai negara yang memiliki banyak perbedaan, Indonesia memiliki pemersatu yakni Pancasila dan bahasa Indonesia.

Kehidupan masyarakat Indonesia sangat beragam mulai dari latar pendidikan maupun profesi. Walaupun beragam, semua orang dapat berbicara mengenai hukum maupun politik. Misalnya, jika kita berada di suatu desa ada perkumpulan bapak-bapak yang sedang mengobrol pasti bahasan mereka tidak jauh tentang hukum ataupun politik terlepas dari latar belakang masing-masing. Diskusi itu akan mengalir dengan berbagai pendapat pandangan tentang kebijakan atau berita yang sedang hangat diperbincangkan.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena sebagai negara demokrasi semua orang berhak mengutarakan pendapatnya dan itu bagian dari hak. Hak berpendapat inilah yang membuat semua orang bisa menyampaikan pendapat aspirasinya namun dengan batasan tidak melanggar hak asasi orang lain.

Melihat keadaan sekarang ini, hak berpendapat inilah yang membuat banyak berita-berita kurang dapat dipercaya bahkan terkadang tidak didasarkan atas fakta. Hal ini membuat banyak timpang tindih yang menjadikan masyarakat menjadi mudah terbawa berita yang kurang benar.

Terkadang berita itu membuat kekacauan khususnya di dunia maya (media sosial). Pepatah lama mengatakan bahwa “mulutmu harimaumu” sekarsng sudah bermetamorfosis menjadi “jarimu harimaumu” karena memang saat ini perkembangan digital sangat pesat namun tidak di barengi dengan pengetahuan tentang cara memilih dan memilah mana berita yang benar dan yang salah lalu mereka berkomentar buruk sehingga keadaan menjadi semakin kacau.

Ditambah, dengan keadaan pandemi saat ini yang mengharuskan banyak sektor untuk bekerja dari rumah yang di bantu dengan jaringan internet. Internet inilah yang membuat individu satu dengan yang lain dapat tetap terhubung melakukan komunikasi. Namun, karena internet inilah yang membuat berita-berita semakin banyak tersebar di masyarakat.

Selain itu, dalam keadaan pandemi COVID-19 saat ini dengan penuh semangat pemerintah tidak jarang melaksanakan webinar yang tentunya mengajak masyarakat untuk bergabung berpartisipasi dalam acara tersebut. Namun, sangat disayangkan banyak live webinar dalam media broadcast yang kolomentarnya dipenuhi dengan komentar-komentar pedas bahkan saat acara berlangsung.

Hal inilah yang membuat bahwa masyarakat Indonesia terlihat tidak bersinergi dengan pemerintah. Padahal tujuan dari webinar tersebut adalah untuk mengimplementasikan amanat pembukaan UUD NRI 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin mengajak masyarakat untuk mengetahui lebih dalam terkait topik yang dibahas dalam webinar tersebut namun tujuan tersebut tidak tercapai.

Lebih jauh lagi apabila itu sudah terjadi namun komentar-komentar negatif tertuju pada satu individu tidak jarang akan ada laporan ke pihak berwajib tentang pencemaran nama baik. Peristiwa ini sering terjadi akhir-akhir ini karena memang bebasnya berpendapat walaupun sebenarnya kita terikat pada satu aturan bahwa pendapat itu tidak boleh melanggar hak asasi orang lain.

Opini penulis, di sini terlihat bahwa krisis kepercayaan yang terjadi di Indonesia semakin besar karena itu membuat pemerintah dalam membuat kebijakan untuk masyarakat semakin susah.

Yang perlu ditekankan adalah cara bagaiama pemerintah membangun citra yang baik di hadapan masyarakat yang nantinya akan berimplikasi bahwa pemerintah yang sekarang berpihak pada rakyat. Tentu ini akan menjadi sebuah dasar untuk mengatur rakyat menjadi lebih mudah dan karena kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sudah tercipta sehingga sinergi antara pemerintah dengan rakyat akan tercipta pula.

Indonesia maju akan benar-benar terwujud.


kawanhukum.id merupakan platform digital berbasis website yang mewadahi ide Gen Y dan Z tentang hukum Indonesia. Tulisan dapat berbentuk opini, esai ringan, atau tulisan ringan lainnya dari ide-idemu sendiri. Ingin tulisanmu juga diterbitkan di sini? Klik tautan ini.

Tinggalkan Balasan