Habib Rizieq dan Peliknya Keterbukaan Hasil Tes Swab COVID-19



Setelah kepulangannya ke Indonesia, Habib Rizieq Shihab (HRS) kini kembali menjadi perhatian publik terkait hasil swab test-nya. Tes Swab yang dilakukan HRS ini dilakukan di RS Ummi, Bogor.

Setelah sebelumnya HRS menolak untuk melakukan tes swab dan pada akhirnya melakukan tes swab. Namun, hasil dari positif dan negatifnya dirahasiakan oleh Imam besar dari organisasi FPI ini. Pihak RS Ummi pun akhirnya dilaporkan Satgas COVID-19 Kota Bogor ke pihak Mapolresta Bogor Kota karena dinilai tidak kooperatif dan transparan.

Dalam perdebatan panjang di sosial media dan portal berita bahwa keputusan yang diambil oleh HRS ini menimbulkan polemik pro dan kontra. Pihak yang pro terhadap kerahasiaan rekam medis ini menyatakan itu adalah hak pasien dan mengacu pada Pasal 170 ayat (1) KUHAP. Sementara yang kontra terkait hal ini berlandaskan Permenkes 36 tahun 2012 tentang Rahasia Kedokteran Pasal 9 ayat (1).

Karena ketidakterbukaan HRS dalam hasil swab test-nya menimbulkan simpang siur yang beredar terkait informasi mengenai beliau. Padahal, sebelumnya beliau menjadi topik yang sangat hangat semenjak dari kepulangannya ke Indonesia dan menggelar acara-acara yang melanggar protokol kesehatan.

Akhirnya, publik mendesak HRS untuk mengumumkan hasil dari testnya karena sebelumnya sudah melakukan kegiatan-kegiatan yang telah melanggar protokol kesehatan semenjak kedatangan beliau di Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat wajar bila publik mendesak HRS untuk mengumumkan hasil testnya karena kegiatan-kegiatan yang pernah ia lakukan.

Di balik pro dan kontranya keputusan HRS dan oleh pihak rumah sakit ternyata perbuatan yang dilakukan oleh HRS ini termasuk melawan hukum karena ketidakterbukaannya terhadap hasil tes swabnya kepada institusi yang terkait dan karena kondisi pandemi saat ini. Pembukaan rahasia kedokteran dapat dilakukan tanpa persetujuan pasien dalam rangka penegakan etik atau disiplin serta kepentingan umum.

Dalam fenomena pandemi saat ini, keterbukaan terhadap hasil swab menjadi sangat penting karena untuk dilakukannya pendataan dan penyembuhan terkait hasil swab test COVID-19 yang dilakukan oleh pasien untuk kepentingan umum.

Bila HRS hanya menyatakan bahwa ia baik-baik saja tidak menutup kemungkinan bahwa HRS merupakan carrier atau Orang Tanpa Gejala (OTP) dan kemungkinan HRS untuk menyebarkan COVID-19 ke orang-orang yang ia temui tidak dapat terelakkan. Hal ini sangat menyangkut kepentingan umum karena orang-orang yang sebelumnya beliau temui pun harus dites terkait positif atau tidaknya dan orang-orang yang akan beliau temui harus dibatasi.

Memang, sudah menjadi hak pasien untuk merahasiakan rekam medis tetapi kondisi pandemi saat ini berbeda dengan kondisi normal. Keterbukaan hasil swab test HRS sangat perlu dilakukan mengingat Satgas COVID-19 perlu melakukan tracing dan penelusuran. Sudah sangat jelas bahwa Satgas COVID-19 Kota Bogor ini merupakan institusi penegak hukum yang berwenang untuk kepentingan dan penindakan lebih lanjut terkait hasil swab test yang dilakukan HRS tapi entah kenapa pihak RS Ummi dan HRS menutup-nutupi hasil dari swab test ini dari Satgas COVID-19 Kota Bogor.

Namun, dibalik hal itu kerahasiaan pasien terkait swab test dijelaskan bahwa pasien diminta menuliskan sekiranya siapa saja yang berhak mengetahui informasi tersebut. Tapi yang dilakukan HRS ini jelas-jelas salah karena kepada institusi yang berkaitan pun ia tidak terbuka perihal hasil swab test-nya dan sepatutnya HRS tidak perlu takut kalau hasil testnya akan disebarkan oleh dokter yang memeriksa karena sang dokter pun telah bersumpah untuk menyimpan rahasia kedokteran walaupun yang bersangkutan meninggal.

Selain itu, menurut saya sangat sulit untuk orang sefenomenal dan seterkenal HRS untuk menutup-nutupi dan merahasiakan sesuatu dan secara khusus dalam hal ini ialah hasil swab test tersebut. Menjadi seterkenal dan sefenomenal HRS sudah merupakan konsekuensi dari orang yeng dikenal publik secara luas untuk melakukan keterbukaan terkait hal-hal yang bersifat umum dan darurat seperti hasil swab test ini entah hal itu dibenci atau tidak oleh HRS.

Bila memang HRS ini terindikasikan negatif seharusnya terbuka saja ke Satgas COVID-19 Kota Bogor dan bukan malah menutup-nutupi hasil testnya. Atau kalau memang hasilnya itu positif seharusnya HRS hanya tinggal megkonfirmasi ke Satgas COVID-19 dan diharapkan instirusi yang berkaitan dapat bersikap tertutup terkait rekam medis pasien. Bahkan sudah banyak pejabat-pejabat yang mengumumkan hasil tes swabnya tanpa ragu dan seharusnya HRS mencontoh pejabat-pejabat terkait yang tanpa ragu mengumumkan hasil testnya.

Sudah semestinya kita sebagai rakyat Indonesia harus memiliki kepekaan untuk tetap menjaga kesehatan, mematuhi protokol kesehatan dan kalau bisa tetap berada di rumah. Entah itu menghadiri demo, penjemputan seseorang dan kegiatan keagamaan di luar rumah seharusnya bisa kita hindari.

Segala bentuk kegiatan aktifitas di luar rumah harus kita batasi bila memang kita ingin beraktifitas normal kembali karena kalau kita terus menerus berkerumun angka peningkatan COVID-19 di Indonesia tidak akan pernah menurun bahkan akan terus meningkat bila kedepannya kita tidak mengubah pola hidup dalam masa pandemi seperti ini.

Seharusnya, tokoh-tokoh yang menjadi panutan dan dikenal publik secara luas mencontohkan hal-hal yang baik, bukan malah berkerumun bersama-sama dengan berbagai macam alasan. Bagaimana bisa kita mengharapkan kegiatan normal kembali bila para pejabat dan tokohnya saja tidak bisa mencerminkan perilaku yang baik dan tetap menjaga kesehatan?

Sudah semestinya kita sebagai manusia dewasa sadar akan pandemi ini dan mencontohkan hal yang baik kepada anak-anak agar tidak berkerumun, tetap di rumah dan mematuhi protokol kesehatan bila di luar rumah. Dalam menghadapi masa pandemi ini bukan hanya kesadaran oleh satu orang tapi kesdaran seluruh lapisan masyarakatnya.

 



Tinggalkan Balasan