Hari ini:Oktober 20, 2019

Driver Transportasi Daring: Malam Lembur, Hari Minggu Tak Libur

“Jadi driver transportasi daring itu simalakama, maju kena, mundur kena. Kuat dijalani kalau tidak kuat ditinggal minum kopi.” – Setiawan, Driver transportasi dalam jaringan.

SEBUTAN Bang Toyib yang tidak pulang-pulang rupa-rupanya sudah pantas menjadi panggilan untuk driver transportasi dalam jaringan (daring). Demi menghidupi keluarga, pagi-pagi buta mereka sudah bersiap menatap layar gawai, menunggu notifikasi orderan. Bahkan tengah malam pun masih setia menunggu di dekat spot-spot yang biasa menjadi tempat menjemput pelanggan.

Banyak orang menganggap, bahwa pendapatan driver transportasi daring sudah melebihi UMR. Tapi ternyata, tidak juga. Coba kita bandingkan dengan pekerja dengan pendapatan UMR, buruh misalnya. Buruh memiliki hari minggu dan tanggal merah untuk libur. Buruh memiliki jatah cuti tahunan,  jumlah jam kerja yang jelas, mendapat uang akomodasi transportasi, hingga Tabungan Hari Raya. Namun, apakah ketika driver transportasi daring mengikuti hari dan jam kerja buruh pada umumnya, apakah bisa mereka mendapat penghasilan setara UMR? Hampir bisa dikatakan mustahil.

Sedikit memahamkan kembali, bahwa para driver ini ternyata tidak ‘dibayar’ dengan tarif yang kita bayarkan. Melainkan mereka ‘dibayar’ dengan bonus. Bonus harianlah yang sangat mereka harapkan. Bayangkan, untuk mengejar bonus, tak jarang driver transportasi daring harus bekerja dari pagi hingga tengah malam. Tarif yang kita bayarkan, ternyata terlalu murah. Hampir tidak sesuai dengan usaha yang mereka keluarkan.

Bagaimana soal rating pelanggan? Masalah rating atau peringkat dalam dunia per-transportasi daring-an ini, memang menjadi nyawa bagi para driver. Hal ini menjadi tolok ukur kepuasan konsumen ketika menggunakan layanan yang disediakan. Bila si driver ini mendapatkan peringkat yang biasa-biasa saja, bahkan rendah, maka status kemitraan mereka dengan transportasi daring bisa terancam. Mereka akan dianggap tidak dapat memberikan pelayanan yang baik, driver bisa dikenakan suspend hingga diputus kemitraannya bahkan pemblokiran akun secara otomatis.

Pemberian peringkat yang rendah bisa jadi dikarenakan rendahnya kemampuan mengemudi, atau buruknya perilaku driver. Namun, juga tak jarang mereka mendapat rating rendah dari pelanggan yang usil. Sebenarnya, ini hanyalah secuil dari permasalahan yang dialami oleh para driver. Namun bisa dibayangkan, malam hari lembur, hari minggu tak libur, masih juga serba salah.

Semua aturan tersebut terntu saja berada di luar kontrol mereka. Para driver hanya menjalankan kebijakan dari perusahaan transportasi daring tersebut. Mereka tidak dapat melakukan kendali apapun, mereka hanya sebatas disebut sebagai mitra.

Padahal, jika melihat di salah satu bagian laman salah satu perusahaan transportasi daring, terdapat sebuah kalimat seperti ini, “Jadilah bagian dari revolusi Karya Anak Bangsa, dengan menjadi mitra dalam salah satu era perubahan yang paling membanggakan untuk mencapai Indonesia yang lebih baik.” Cukup menarik.

Namun, ada sedikit yang mengganjal dari skema kemitraan antara driver dengan perusahaan. Sebagai anggota mitra perusahaan, driver harus mengeluarkan modal sendiri. Mulai dari kendaraan, bensin, uang untuk pulsa hingga paket data. Yang lebih mengherankan, di website tersebut terdapat syarat-syarat pendaftaran untuk menjadi driver, tapi anehnya tak ada jaminan berapa penghasilan pasti yang bisa didapatkan. Dengan segenap keringat, waktu, tenaga, dan modal yang dikeluarkan oleh para mitra, apa yang kemudian mereka bisa dapatkan di luar bonus harian? Tidak begitu nyata, apalagi terasa.

Memang banyak diakui, bahwa mereka merupakan salah satu elemen baru di tengah masyarakat yang dapat memberikan manfaat nyata untuk perekonomian bangsa. Ya, mereka merupakan solusi terbaik saat ini. Di saat Pemerintah masih belum mampu memberikan transportasi publik yang nyaman dan memadai.

Pekerjaan sebagai driver transportasi daring juga diklaim menjadi salah satu alternatif menjanjikan bagi masalah pengangguran. Bayangkan saja, pertengahan tahun 2018, transportasi daring telah memiliki satu juta driver. Cukup signifikan untuk menutupi kurangnya lapangan pekerjaan di Indonesia.

Ya, mau bagaimana lagi? Akhirnya pekerjaan menjadi driver transportasi daring dengan segala hal tidak ‘mengenakkannya’ pun menjadi pilihan, meski dengan ‘keterpaksaan’.

“Be nice to nerds. You may end up working for them. We all could.”
― Charles J. Sykes

Share

Seorang anak yang terlahir sebagai kado terindah untuk ulangtahun ke-23 Ibundanya.