September 20, 2020

Celebrity Culture dan Populisme Pilkada 2020

Pada 2020 ini akan dilaksanakan sebuah praktik demokrasi lokal dalam wujud pemilihan kepala daerah langsung serentak di 270 daerah di Indonesia. Beberapa poster yang bergambarkan calon dalam pilkada berjejeran di pinggir trotoar jalan. Artikel popular ini saya tulis berawal dari perjalanan saya pulang ke kampung halaman dan melihat banyaknya poster-poster elite politik di Indonesia.

Salah satunya yang terpampang nyata dalam reklame besar di pinggir jalan adalah foto Giring Nidji. Selebriti/vokalis yang sekarang menjabat sebagai plt Partai Solidaritas Indonesia ini menjadi buah bibir media-media di Indoensia. Pasalnya dalam reklame tersebut bertuliskan “Giring untuk Presiden 2024”.

Pentolan grub band Nidji ini menjadi perbincangan hangat, setelah balihonya viral di jagat media sosial. Hal ini menunjukan sebuah tren bahwa demokrasi berkah untuk semua orang tanpa mengenal kasta dan strata sosial. Siapa pun berhak menjadi bagian penting dalam suksesi politik di Indonesia. Tak terkecuali kalangan selebritis yang saat ini menjamah kerasnya kompetisi politik di Indoensia.

Selain Giring Nidji yang mengkampanyekan dirinya untuk Presiden 2024, sederet artis juga terjun berpolitik dan ikut meramaikan pilkada 2020 seperti presenter kondang Ramzi, Iyeth Bustmi, luki hakim serta musisi kondang ahmad dhani. Hal ini menjadi bukti bahwa banyaknya artis yang mengadu peruntungan baru di dunia politik.

Kehadiran selebriti dalam pertarungan politik sudah tidak menjadi hal baru di Indonesia. Agustina Hermanto alias Tina Toon merupakan salah satu selebriti tanah air yang sukses lebih dulu menjadi anggota dewan, mantan penyanyi cilik ini terpiih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024 dari Fraksi PDI Perjuangan.

Selebritis dan Politik di Indonesia

Belakangan ini muncul fenomena tentang  masuknya sejumlah selebritis ternama ke dunia politik menjelang pemilihan kepala daerah 2020. Gejala ini seolah menjadi tren baru pergeseran ideologi budaya pragmatis di kalangan selebritis di Indonesia.

Menurut Douglas (Kellner, 2010) organisasi politik lebih suka memanfaatkan selebritis,  dibanding mencetak kader politik sendiri yang militan sesuai ideologi partainya. Selebritis ini biasanya terkenal dari infotainment. Infotainment dijadikan sebagai ruang para artis yang sedang menanjak bahkan menjaga stabilitas popularitasnya.

Mungkin kita pernah mendengar isu tentang artis tanah air Raffi Ahmad yang ditawari salah satu anggota legislatif untuk masuk partai politik. Isu tersebut menggarisbawahi bahwa selebiriti memiliki pengaruh kuat dalam meningkatkan elektabilitas sebuah partai politik.

Menurut Boorstin (1961: 58-65), selebriti adalah seseorang yang dikenal luas atas  keterkenalannya. Selebriti mengembangkan kapasitas mereka untuk terkenal, tidak dengan   memperoleh pencapaian tertentu, tetapi dengan membedakan personalitas mereka sendiri dari mereka yang merupakan pesaing mereka di dalam arena publik.

Celebrity Culture dan Populisme

Popularitas seorang selebritis memiliki hubungan erat atas profesi keartisannya. Mereka bisa popular karena disukai masyarakat penggemarnya atas tampilan karya seni kreativitas, gaya hidup yang dipublikasikan melalui media (Driessens, 2013). Artinya popularitas selebritis karena dibesarkan media, sedangkan popularitas politisi militan dibesarkan oleh dirinya sendiri.

Popularitas selebritis ketika dibawa masuk ranah dunia politik tampak menimbulkan image baru di masyarakat. Image baru ini menandai keseriusan mereka untuk menampilkan potensinya ketika berpolitik, sehingga menjadi opini di kalangan pemerhati politik dan masyarakat.

Bersamaan dengan popularitasnya, belakangan  selebritis tidak hanya menjadi pemikat bagi  pelaku seni dan budaya secara umum sesuai talentanya, tetapi juga organisasi politik untuk  merekrutnya menjadi calon anggota legislatif dari organisasi politik pengusungnya.

Menurut Weylan (2001) yang pernah disampaikan Koes dalam diskusi PUSAD UMSurabaya bahwa Populisme strategi politik dimana seorang pemimpin menjalankan kekuasaan berdasarkan dukungan-dukungan lansgung tanpa terlembagakan dengan jumlah pengikut yang tidak terorganisir.

Dari  pembahasan diatas menjadi bukti bahwa profesi selebritis ke dunia politik karena  didorong oleh popularitasnya sebagai public figure, bukan sebagai profesionalis politik yang  seharusnya sebagai persyaratan utama yang harus mereka miliki ketika masuk ke dunia  politik. Mereka dicitrakan dalam sebuah ruang publik dan memiliki penggemar yang cukup banyak.

Dampak Keterlibatan Selebriti dalam Politik Indonesia

Selanjutnya, apa dampak dari keterlibatan selebriti dalam Pemilu di Indonesia? Apa masalahnya kalau selebriti lantas terpilih dan menjadi anggota legislatif? Popularitas merupakan nilai tambah modal komunikasi politik para selebriti.

Dalam kacamata Baudrillard, pada era postmodern masyarakat konsumen semakin tunduk pada begitu banyak pencitraan. Barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat tidak sepenuhnya berhubungan dengan kebutuhan aktual.

Selebritis lebih sering tampil di acara televisi  diberbagai acara dan membintangi sinetron tertentu, bahkan mereka pun ada yang memiliki fans atau penggemar berat. Sehingga, hal ini  memudahkan mereka untuk bisa lebih dikenal oleh masyarakat.

Micro-celebrity yang diposisikan sebagai pengguna media baru, menjadi salah satu bentuk demotic turn yang meningkatkan visibilitas ‘orang awam’ yang mengubah dirinya menjadi konten media melalui kultur selebriti, terkhusus melalui media online (Turner, 2010).

Bahkan bagi masyarakat awam yang tidak memiliki wawasan tentang politik, apatis terhadap politikdan tidak mengetahui atau tidak mengenal calon-calon yang mereka pilih, apakah   cagubnya, calegnya maka dapat dengan mudahnya mereka memilih calon dari kalangan selebritis.

Sebagai identitas terkait dengan profesi keartisannya, selebritis yang masuk dunia politik menganggap memiliki sensitivitas, dan estetika yang kuat sehingga mampu merespon aspirasi dan berbagai permasalahan “seni dan budaya” di masyarakat, karena pengalamannya semasa menjadi selebritis hiburan.


kawanhukum.id merupakan platform digital yang mewadahi ide Gen Y dan Z tentang hukum Indonesia. Tulisan dapat berbentuk opini, esai ringan, atau tulisan ringan lainnya dari ide-idemu sendiri. Ingin tulisanmu juga diterbitkan di sini? Klik tautan ini.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments