Juli 7, 2020

Banyak Penyalahgunaan, Perlukah Revisi UU Narkotika?

Penanganan permasalahan narkoba belakangan ini belum mampu menekan angka peredaran dan penyalahgunaannya. Justru sebaliknya, permasalahan narkoba terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia sendiri bukan satu-satunya negara yang memiliki permasalahan akan adanya peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba. Seluruh negara di dunia juga mengalami permasalahan yang relatif sama. Penanganan di tiap negara di dunia akan adanya peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba berbeda satu sama lain. Adapun terkait hal tersebut, harus diakui bahwa pola penanganan narkoba di Indonesia memang masih jauh dari harapan.

Para pecandu narkoba awalnya juga korban dari penyalahgunaan narkoba dan banyak dari mereka banyak divonis pidana penjara. Selanjutnya, mereka ditempatkan dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) dan disatukan dengan para sindikat, bandar, pengedar gelap narkoba, pembuat narkoba dan lain-lain. Pengawasan dalam rangka pencegahan peredaran dan penyalahgunaan yang terjadi di dalam lembaga pemasyarakatan seringkali luput dari pengawasan. Akibatnya, vonis pidana penjara maupun penempatan para pencandu narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan bukan merupakan hal yang efektif dan belum tentu menimbulkan efek jera bagi pecandu narkoba.

Apabila hal tersebut dilanjutkan akan membuat para pecandu tersebut semakin kecanduan dengan narkoba. Hal ini disebabkan karena semakin mudahnya mendapat akses dan mudahnya mendapatkan barang narkoba lantaran penyatuan para pengguna, pengedar, sindikat, dan pembuat narkoba dalam satu lapas. Mungkin, banyaknya kejadian di lapangan sebagaimana dijelaskan di atas dapat membuat kita menyerah dan pesimis terhadap peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba. Namun, kita tetap membutuhkan adanya dukungan dan kesiapan semua unsur dari hulu hingga hilir dalam masyarakat dalam memberantas seluruh peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba.

Implementasi Penanganan Narkoba Melalui Tiga Pilar Utama

Secara garis besar, pola penanganan peredaran dan penyalahgunaan narkoba saat ini berpusat pada tiga pilar utama, yaitu pencegahan, penegakan hukum, dan rehabilitasi. Pencegahan dan rehabilitasi saat ini terdapat di instansi Badan Narkotika Nasional, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial. Pola kini masih meniru dan mengadopsi pola yang ada di beberapa negara lain di dunia. Sementara itu, mengenai arah penanganan peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba sendiri masih dipandang sebagai permasalahan hukum walaupun dalam keadaan sekarang ini mulai bergeser ke arah permasalahan kesehatan.

Saya setuju bahwa permasalahan peredaran dan penyalahgunaan penggunaan narkoba ini memiliki kaitan dengan permasalahan kesehatan yang mengancam tubuh dan jiwa. Para pengguna narkoba seringkali menjadi objek dalam peredaran narkoba, selanjutnya mengonsumsi narkoba sebagai pilihan pribadi yang melekat pada hak-hak pribadi. Oleh karena itu, penanganan dan penekanan upaya hukum semata seringkali tidak efektif dan kadang terkesan kontradiktif dengan upaya penanganan yang dilakukan melalui upaya pencegahan maupun rehabilitasi.

Penyalahgunaan penggunaan narkoba sudah bukan rahasia umum lagi merupakan masalah yang besar dan luar biasa. Diperlukan upaya-upaya yang luar biasa juga dan tidak cukup dengan hanya penanganan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum saja. Masih diperlukan dukungan seluruh elemen masyarakat yang ada. Kenyataan itulah mendukung berdiri dan terbentuknya Badan Narkotika Nasional (BNN).

BNN pun gencar dalam hal ini melakukan upaya-upaya preventif dan represif untuk mewujudkan negara Indonesia yang bebas dari narkoba yang merupakan target dari seluruh negara di dunia. Upaya-upaya itu meliputi penyelamatan para bekas pengguna narkoba dengan cara rehabilitasi dan memberantas para sindikat, bandar dan pembuat narkoba demi memutus mata rantai peredaran narkoba. Akan tetapi, dalam hal ini tidak cukup itu saja karena diperlukan adanya upaya preventif atau pencegahan agar tidak muncul para pengguna-pengguna narkoba yang baru.

Sebuah Pepatah Mengatakan “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”

Hal ini juga berlaku pada penanganan terhadap para pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba,  baik kalangan muda maupun anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak dini. Keseriusan pemerintah dalam rangka menanggulangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba sangat diperlukan. Khususnya, sikap pemerintah terkait penyamaan kedudukan antara permasalahan peredaran dan penyalahgunaan narkoba ini dengan permasalahan korupsi dan terorisme yang mempunyai dampak sistematis, mengancam ketahanan sosial, serta merusak kesehatan masyarakat lebih utamanya kaum muda.

UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika sudah tepat dan tidak perlu direvisi sepertinya harus dipertimbangkan. Setidaknya dalam implementasi undang-undang tersebut masih ada perbedaan penafsiran dan penerapannya menjadikan revisi undang-undang menjadi satu titik yang tentunya sangat krusial. Hingga saat ini, praktik perdagangan pasal tertentu dalam UU Narkotika masih kerap ditemui di tahapan pemeriksaan, menunjukkan masih besarnya peluang para oknum-oknum tertentu mengambil keuntungan.

Selain itu, dalam menangani peredaran dan penyalahgunaan narkoba, aparat hukum sesungguhnya mengalami kesulitan untuk mengawasi penjualan online obat-obatan yang secara kategori termasuk jenis yang legal dan diperlukan untuk kebutuhan medis maupun yang lainnya. Pada sisi lain, pencegahan narkoba adalah ditujukan kepada persiapan masyarakat dan generasi yang bebas dari penyalahgunaan narkoba dan sejenisnya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, program pencegahan sebatas berbentuk sosialisasi dan bersifat seremonial.

Aspek Pembangunan dan Kesinambungan Karakter Masih Sangat Lemah

Selain itu, integrasi dan sinergi program masih jarang terjadi. Akibatnya, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba menjadi bersifat parsial. Dengan demikian, diperlukan proses pola penyesuaian dengan konteks dan dinamika berbagai aspek yang ada di Indonesia. Salah satu hambatan yang paling nyata adalah aspek perencanaan yang terkesan uji coba atau trial and error. Upaya ini terkesan adanya tindakan tanpa memahami semua permasalahan yang ada dan sesungguhnya terjadi. Kelemahan utama adalah pada kesiapan sarana dan prasarana rehabilitasi termasuk semua personil. Belum lagi, kritikan terhadap basis data yang berpotensi mengaburkan ketepatan dan kebenaran langkah yang diambil.

Untuk itu perlu adanya keseriusan dalam perencanaan dan konsistensi dalam pelaksanaan sepertinya harus menjadi yang utama dan kunci. Terakhir, perlu pembenahan segera mengingat peredaran dan penyalahgunaan narkoba terus berjalan dan mengambil korban anak bangsa kita.

Drugs are a Waste of Time

Kurt Cobain