Penulis: DESIANA

Tidak dapat dipungkiri bahwa konflik agraria merupakan konflik yang tak kunjung tuntas. Meskipun telah mengalami pergantian jabatan, namun tak ada pemimpin yang benar-benar bisa memecahkan. Sejak hadirnya sistem kolonial, tata kelola agraria menjadi ekstraktif dan berpijak pada pasar internasional yang di wujudkan dengan adanya usaha perkebunan. Menurut sejarah, banyaknya perkebunan tersebut tidak hanya melahirkan ketimpangan kepemilikan tanah, tetapi juga demoralisasi sosial. Berdasarkan data yang bersumber dari Jatama (Jaringan Tambang) dan KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria), pada tahun 2010 saja di Indonesia sudah terjadi 106 konflik agraria yang melibatkan 517.159 KK dalam konflik tersebut. Jumlah tersebut tentu tidak dapat dikatakan sedikit dan…

Read More