Hari ini:September 21, 2019

74 tahun Mahkamah Agung: Menuju Peradilan Sederhana, Cepat, dan Ringan Berbasis Aplikasi

Kekuasaan kehakiman di Indonesia berdasarkan Pasal 24 Undang – Undang Dasar 1945 terbagi menjadi dua lembaga yaitu Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi berfungsi sebagai lembaga pengadilan yang menyelesaikan sengketa antara UU dengan UUD 1945. Berbeda halnya dengan Mahkamah Agung yang berfungsi sebagai lembaga pengadilan yang menyelesaikan sengketa antara UU dengan UU atau peraturan lain dibawah Undang – Undang. Hal tersebut telah diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Mahkamah Agung memiliki beberapa “kamar” peradilan, diantaranya peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan peradilan niaga. Keseluruhan lembaga peradilan tersebut berada di bawah naungan Mahkamah Agung mulai dari pengadilan tingkat pertama hingga tingkat terakhir (kasasi). Didirikan pada tanggal 19 Agustus 1945, terhitung sudah 73 tahun Mahkamah Agung berbakti melayani negeri. Dalam rangka peringatan hari ulang tahun Mahkamah Agung ke-73, Mahkamah Agung mengambil tema “Peradilan Modern Berbasis Teknologi Informasi untuk Melayani”. Bersamaan dengan hal tersebut, MA mengeluarkan Perma baru yang dikeluarkan pada bulan Februari lalu. Perma Nomor 1 Tahun 2019 tersebut berisi tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik dan Aplikasi e-litigasi.

Dalam era revolusi industri 4.0 kali ini, MA memberanikan diri membuat terobosan terbaru dalam dunia peradilan di tanah air. Keluarnya Perma Nomor 1 Tahun 2019 tersebut semakin memantapkan langkah MA supaya menjadi lembaga peradilan yang sederhana, cepat, dan ringan. Bayangkan saja, dengan adanya aplikasi e-litigasi, kita tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk mengurus dokumen-dokumen. Adanya aplikasi e-litigasi pun juga diharapkan dapat menurunkan tingkat suap yang terjadi di lembaga peradilan itu sendiri.

Berdasarkan law of accelerating returns yang diungkapkan oleh Ray Kurzweil yang menerangkan bahwa kemajuan teknologi bersifat eksponensial dan lebih cepat dari pada peradaban manusia itu sendiri. Penggunaan teknologi dalam berbagai kebutuhan hidup manusia memang tidak dapat dihindarkan. Manusia harus memanfaatkan kemajuan teknologi seoptimal mungkin sehingga segala lini kehidupan dapat dijalankan secara efisien, tidak terkecuali namun tidak terbatas pula dalam lingkungan lembaga peradilan. Adanya Perma Nomor 1 Tahun 2019 dan aplikasi e-court dan e-litigasi menjadi sebuah kado terindah dari Mahkamah Agung untuk Republik Indonesia. Dirgahayu Mahkamah Agung ke-74, dari kami Kawan Hukum Indonesia!

 Salus Populi Suprema Lex

Kemakmukran dan Kesejahteraan Rakyat adalah Hukum yang Tertinggi pada Suatu Negara

Share

A law student at the University of Jember having a big dream to be a diplomat.